Connect with us

Berita

Seorang ibu dengan satu anak hidup dengan kaki yang dirantai

Avatar

Published

on

Seorang ibu asal Kota Tegal, Jawa Tengah, yang memiliki satu anak hidup dengan kaki yang dirantai dalam kamar. Pihak keluarga terpaksa merantai Wakoyah (40), yang mereka anggap akan membahayakan orang lain.
Wakoyah hidup dengan kondisi seperti ini sudah selama satu tahun. Kediamannya yang berada di Jalan Cipto Mangunkusumo 32, RT01/01, Kel. Kaligangsa, Kec. Margadana, Tegal.
Kaki kanannya diikat dengan rantai sepanjang 2,5 meter. Diujung rantai terikat di jeruji teralis dari jendela kamarnya. Rantai tersebut digembok agar ia tidak bisa kemana-mana.
Ketika detikcom berkunjung, wanita dengan rambut sebahu tersebut duduk bersila kaki diatas alas tipis yang menjadi tempat ia tidur. Wakoyah terlihat sesekali tersenyum sendirian dan terdiam tiba-tiba dengan mata yang sayu.
Wakoyah adalah putri ketiga dari Darjo (70) dan Wasmirah (62). Ia memiliki satu anak laki-laki yang bernama Muhammad Dapa (11), Dapa kini duduk dibangku SD.
Diinformasikan bahwa Wakoyah telah mengalami gangguan kejiwaan atau ia adalah golongan Orang Dengan Gangguan Jiwa selama 15 tahun lamanya.
“Kalau gak dirantai, dia bisa lari kemana-mana. Kami takut barangkali saat berkomunikasi dengan orang lain bakal brutal,” ucap Wasmirah sambil mengusap air matanya, Senin (10/2).
Ibunda Wakoyah menjelaskan bahwa Wakoyah merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Wasmirah tidak bisa mengingat kapan tepatnya anaknya tersebut menikah pertama kali, yang ia ingat hal tersebut terjadi 15 tahun yang lalu. Namun, tidak lama setelah menikah ia ditinggalkan suami pertamanya.
Menjanda selama beberap atahun, Wakoyah menikah kembali untuk kedua kalinya dengan pria yang berasal dari Kelurahan Gandasuli, Brebes. Dari pernikahan keduanya ini, ia dikaruniai anak, yakni Muhammad Dapa.
“Tapi kemudian suami meninggalkannya saat Muhammad Dapa berusia baru 40 hari. Sampai sekarang tidak ada kabar dari suaminya, terpaksa Dapa kami rawat hingga sekarang,” jelas Wasmirah.
Ibunda Wakoyah mengaku bahwa Wakoyah sering kali mendapatkan bantuan obat dari Puskesmas sekitar. Ketika selesai meminum obat, kondisinya membaik hingga mau untuk mandi. Selain mendapatkan bantuan obat dari Puskesmas, keluarga tersebut mendapatkan bantuan dari Program Keluarga Harapan.
“Tapi sangat disayangkan sudah satu tahun ini PKH dari pemerintah dicabut oleh petugas Dinsos Tegal, katanya kami sudah mampu,” keluh Wasmirah.
Keluarga tersebut tinggal disebuah rumah yang sederhana, tanpa televisi untuk hiburan ataupun kendaraan motor.
“Saya petani biasa, sangat tertolong saat mendapat PKH tapi tiba-tiba dicabut, sedih rasanya,” tutur Wasmirah.
Ketika diminta konfirmasi, Ketua R01/01 dari Kel. Kaligangsa, Munaroh (36) telah membenarkan bahwa Wakoyah adalah warganya. Munaroh mengetahui juga kondisi dari Wakoyah yang memiliki gangguan kejiwaan.
Munaroh bercerita bahwa Wakoyah sempat keluar rumah dan sulit saat dicari. Bahkan ia tidak mau untuk memakai pakaian sampai mengamuk memecahkan kaca di rumahnya. Kekhawatiran pihak keluarga mencuat takut Wakoyah berlaku lagi, maka kakinya pun dirantai.
“Keluarga khawatir kalau tidak dirantai ia akan pergi kemana-mana. Keluyuran tanpa pakaian dan mengamuk. Jadi ya mereka terpaksa merantainya,” ucap Ketua RT.
Yuli Prasetiya, Kabid Pencegahan Penanggulangan penyakit Dinkes Tegal, saat ditemui terpisah berkata bahwa pihaknya akan segera mengunjungi Wakoyah. Menurutnya, Kota Tegal memiliki komitmen tidak ada satu warga Tegal yang dipasung.
“Kami berupaya Tegal untuk bebas pasung. Kalaupun ada, kami akan melakukan upaya pasti kunjungan rumah dengan sektor lain, juga melakukan edukasi ke keluarga dan lingkungannya,” ujarnya. “Kami melakukan pengobatan sesuai dengan indikasi penderita sendiri,” lanjutnya saat ditanyai oleh wartawan terkait kondisi Wakoyah.
SUMBER: Detik

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Larangan kunjungan delapan negara ke Indonesia

Avatar

Published

on

Pixabay
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengumumkan kebijakan tambahan pemerintah RI tentang pencegahan virus corona di Jakarta, Selasa (17/3).
Untuk bantuan medis, lihat dokku.id
Pemerintah melarang pendatang masuk maupun transit dari delapan negara. Larangan ini diberlakukan untuk mereka yang datang dari Inggris, Swiss, Italia, Spanyol, Jerman, Vatikan, Perancis, dan Italia dalam dua pekan terakhir.
Selain itu, kebijakan khusus masih berlaku terhadap negara Korea Selatan (khususnya Provinsi Gyeongsangbuk-do dan Kota Daegu) dan China.
Sementara, untuk pendatang yang datang selain dari delapan negara tersebut, diharuskan untuk mengisi dan memberikan Kartu Kewaspadaan Kesehatan ke Kantor Kesehatan Pelabuhan sebelum tiba di pintu masuk bandara Indonesia.
Namun, apabila dalam riwayat perjalanan selama dua pekan terakhir bersangkutan dengan negara-negara tersebut, maka pendatang dilarang untuk masuk Indonesia.
Untuk WNI yang akan berkunjung ke salah satu dari delapan negara tersebut, akan dilakukan pemeriksaan tambahan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan setibanya di Indonesia.
Bagi WNA yang ada di Indonesia, perpanjangan izin tinggalnya sudah habis masa berlaku, diberlakukan aturan Permenkumham No. 7 (2020), begitupun dengan kebijakan untuk pemegang KITAP/KITAS dan izin tinggal dinas yang sekarang sedang ada di luar negeri dan izinnya akan berakhir, diberlakukan peraturan yang sama.
Seluruh kebijakan tambahan yang baru ini berlaku mulai Jumat, 20 Maret tahun ini tepat pukul 00.00 WIB. Perlu diketahui bahwa kebijakan ini sementara dan memiiki kemungkinan evaluasi kebijakan yang akan disesuaikan dengan perkembangan yang ada.

Continue Reading

Berita

Update COVID-19 Indonesia: 134 kasus

Avatar

Published

on

tirto
Per Senin (16/3), Achmad Yurianto, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Kemenkes dan jubir penanganan virus corona di Indonesia memberikan pengumuman perihal kasus pasien positif COVID-19 saat ini mencapai 134 kasus.
Ia berkata penambahan ini terjadi karena hasil dari penyelidikan atas orang-orang yang terhubung dengan pasien-pasien positif lainnya dan pernah mengalami kontak langsung.
Pada hari sebelumnya, Minggu (15/3), Indonesia tercatat memiliki 117 kasus virus corona.
Angka tersebut mayoritas penduduk dari Jakarta. Dengan menyebarnya virus corona, pemerintah mengizinkan pada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan dalam penyelidikan terhadap mereka yang terduga pernah mengalami kontak langsung dengan para pasien COVID-19 dengan tetap merahasiakan identitasnya.
Kemudian, pasien Kasus 1, 2, dan 3 dinyatakan telah sembuh dari COVID-19. Kabar ini diumumkan oleh Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan. Ketiganya telah usai dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso dan dipulangkan.
Dalam pelepasan ketiga pasien tersebut, Terawan mengadakan upacara pelepasan dengan memberikan ‘oleh-oleh’ dari Jokowi berupa ramuan jamu yang disebut bisa menjaga daya tahan tubuh.
Ia pun mengingatkan pada masyarakat agar tidak perlu bertindak panik terhadap wabah tersebut karena masih bisa disembuhkan meskipun perlu waktu untuk prosesnya.
Diketahui, ketiga pasien sangat koorporatif dalam masa pemeriksaan dan perawatan selama di RSPI.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Kota Malang

UMM menjadi harapan masyarakat, produksi cairan pembersih tangan

Avatar

Published

on

Website UMM
Menghadapi dan merespons terhadap kelangkaan yang terjadi pada alat-alat individu untuh mencegah COVID-19, seperti masker, sabun cuci tangan, dan cairan pembersih tangan di apotek maupun di toko-toko terdekat, Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang memproduksi cairan pembersih tangan sendiri.
Sebagai langkah preventif, cairan pembersih tangan menjadi hal yang kini masih dicari oleh masyarakat untuk mencegah virus corona. Langkah UMM dengan memproduksi cairan pembersih tangan, atau hand sanitizer adalah bentuk dukungan yang sangat diharapkan oleh masyarakat.
“Keberadaan cairan pembersih tangan ini sudah langka di pasar, bahkan sulit ditemukan di toko atau swalayan manapun. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan formula tepat agar nyaman saat dipakai. Kami memproduksinya dengan massal,” ucap Raditya Weka Nugraheni, penanggung jawab produksi, Malang, Jawa Timur, hari Senin (16/3).
Langkah ini pada awalnya merupakan sebuha usulan dari pimpinan UMM, Rektor Dr Fauzan, terhadap tindakan pencegahan penyebaran virus corona di seluruh area kampus. Kemudian menjadi kegiatan pengabdian dari fakultasnya, Fakultas Ilmu Kesehatan, jelas Raditya.
Pekan ini, Raditya dan timnya memiliki target memasang hand sanitizer di seluruh lorong kampus dan tersebar diberbagai titik.
“Melalui pelibatan mahasiswa, diharapkan mereka agar bisa belajar secara langsung tentang proses pembuatan hand sanitizer,” tutur Raditya. Dalam teknis produksi, UMM akan melibatkan para mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir bersama dengan asisten Lab Teknologi Farmasi.
Pada kesempatan sebelumnya, rektor UMM telah memberikan surat edaran pada seluruh civitas akademika tentang Kewaspadaan dan Pencegahan COVID-19 dan Pengelolaan Perkuliahan. Dalam surat edaran tersebut, Dr Fauzan mengimbau agar seluruh pelaku civitas menjalani hidup yang sehat dan menghindar dari segala penyakit.
Selain itu, kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring dengan memberikan materi penugasan melalui tautan yang bisa diakses dengan internet oleh mahasiswa.
Kampus-kampus yang ada di Malang selain UMM juga meniadakan kegiatan perkuliahan dan menggantinya melalui jaringan online.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Trending