Politik

Penggabungan PDI-P dan KIB-KIR Dianggap Sulit oleh Pengamat: Partai Besar, Ego Tinggi

Ari Junaedi, direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama, menilai sulit untuk menyatukan PDI Perjuangan ke dalam koalisi besar yang belakangan diwacanakan oleh Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR). Ari menyebut peleburan koalisi dipandang lebih mudah jika melibatkan partai dengan perolehan suara yang cenderung kecil. Menurutnya, PDI-P yang memiliki ego besar akan sulit untuk disatukan dengan partai-partai seperti PPP, PAN, dan PBB.

Alasan mengapa PDI-P sulit untuk disatukan dalam koalisi besar adalah karena partai ini memiliki elektabilitas tinggi. Survei dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa tingkat elektoral PDI-P berada di urutan pertama, jauh meninggalkan partai-partai lainnya. Selain itu, partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri ini juga menjadi pemenang pemilu dua kali berturut-turut pada tahun 2014 dan 2019.

Dengan modal sebesar itu, Ari meyakini PDI-P akan percaya diri meski tanpa berkoalisi dengan partai lain pada pemilu mendatang. Ia menggambarkan PDI-P sebagai executive muda yang sangat percaya diri dalam menatap masa depan dan yakin sukses karena merasa suaranya cukup untuk maju di pilpres tanpa perlu berkoalisi dengan partai lain.

Kontras dengan situasi PDI-P, Ari merasa partai-partai yang mengusulkan peleburan koalisi justru memiliki harapan besar untuk menarik PDI-P. Ia yakin bahwa keputusan mengenai wacana koalisi besar akan baru diketahui setelah PDI-P menentukan langkah. Pada saat ini, partai-partai lain masih berhitung dan menduga-duga siapa capres dan cawapres yang akan diusung oleh PDI-P.

Ari mengatakan bahwa PDI-P menjadi pusat orbiter dari koalisi-koalisi yang telah terbentuk dan yang akan terbentuk. Ia menambahkan bahwa wacana peleburan KIR dan KIB sejatinya bertujuan untuk menguatkan potensi kemenangan pada pemilu mendatang. Salah satu kemungkinan dari regrouping yang diwacanakan adalah untuk mengunci calon lain agar tidak bisa maju di Pilpres 2024 karena semakin sedikitnya peluang partai mengajukan calon.

Menurut Ari, koalisi besar secara politis memang menggiurkan karena jumlah kumulatif suara partai-partai politik yang masif. Namun demikian, hal itu tidak secara otomatis menjamin kemenangan. Ia mengatakan bahwa kemenangan ditentukan oleh capres-cawapres yang disodorkan oleh koalisi. Untuk meraih kemenangan, diperlukan sosok yang tidak hanya memiliki elektabilitas yang tinggi, tetapi juga memiliki rekam jejak yang baik di pemerintahan.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan bahwa koalisi Kebangkitan Indonesia Raya dan Koalisi Indonesia Bersatu berpeluang untuk bergabung. Prabowo menilai kedua koalisi memiliki frekuensi yang sama. Namun, ia belum menjawab secara gamblang terkait rencana penggabungan KIB dan KIR. Prabowo memastikan bahwa ketua umum partai dari masing-masing koalisi akan berkomunikasi lebih intens lagi ke depannya.

PDI-P menyambut baik wacana peleburan koalisi besar ini. Namun, Ketua DPP PDI-P yaitu Puan Maharani mengingatkan bahwa koalisi besar harus dibentuk dengan cita-cita dan visi misi yang sama untuk Indonesia. Puan Maharani menilai, ketika semua partai politik di dalam koalisi besar sepakat dengan cita-cita yang akan dicapai, maka koalisi itu bisa terbentuk. Puan juga mengatakan bahwa PDI-P akan mendukung hal tersebut jika dianggap yang terbaik untuk bangsa dan negara serta bagi rakyat Indonesia.

Baca juga: Pengamat: Kandidat Capres Koalisi Besar Semakin Mengerucut ke Prabowo.

Arya Pratama

Arya Pratama adalah seorang jurnalis senior yang fokus pada berita politik. Ia telah bekerja untuk beberapa media terkemuka di Indonesia. Selama kariernya, Arya telah meliput berbagai peristiwa penting di dunia politik Indonesia, termasuk pemilihan umum, sidang parlemen, serta peristiwa-peristiwa penting di tingkat nasional dan internasional.