Connect with us

Berita

Mitos-mitos COVID-19 yang perlu diketahui

Avatar

Published

on

Pixabay
Tidak bisa dielakan bahwa dengan era yang serba digital ini, berita dan kabar menyebar dengan cepat. Informasi-informasi yang berdatangan kadang perlu kita saring dan kita kaji agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dengan menyebarnya wabah virus corona dengan informasi-informasi mengenai COVID-19, tidak semuanya terbukti benar. Ada pula informasi yang berupa mitos dan hoaks.
Kenali mitos-mitos berikut ini agar lebih mengerti mengenai COVID-19.

1. Mitos tentang masker yang bisa melindungi kita dari virus

Masker bedah ataupun masker N95 tidak sepenuhnya melindungi diri kita dari virus karena benda ini tidak didesain untuk memblok virus. Seseorang dengan kondisi yang sehat namun memakai masker memiliki risiko terinfeksi virus. Terlebih jika sering menyentuh area wajah di mana penularan bisa dimulai dari situ.
WHO merekomendasi masker bedah digunakan untuk orang yang sakit dan petugas kesehatan. Hal ini karena bisa membantu pencegahan penyebaran virus dari droplets yang tertahan dengan masker.
2.  Mitos orang yang terinfeksi pasti meninggal dunia
Informasi ini tentu sangat salah. Sampai saat ini, sebanyak 83% pasien virus corona mengalami gejala ringan. Sementara 17% lainnya dalam kondisi kritis. Sebanyak 3,8% saja tingkat kematian dari virus corona.
Kebanyakan kematian terjadi pada orang lanjut usia dan sesorang yang sudah punya penyakit lain.

3. Mitos keamanan paket yang dikirim dari China

WHO memberikan pernyataan bahwa surat, bahan makanan, atau paket yang dikirim dari China aman untuk diterima. Otoritas kesehatan mengklaim bahwa risiko sebaran virus dari paket ataupun barang adalah rendah.
Meskipun virus corona bisa bertahan hidup selama sembilan hari di benda yang mati, Sugiyono Saputra, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, bidang mikrobiologi, menyatakan penelitian spesifik tentang ukuran bertahan virus COVID-19 belum ada.
Virus tersebut bisa bertahan lama jika berada di suhu tertentu, tidak terpapar matahari langsung, dan pada kelembapan tertentu.
4. Mitos penyebaran dari hewan peliharaan
Sempat ada berita bahwa ada hewan peliharaan di Hong Kong terinfeksi virus corona, namun belum terbukti secara ilmiah. Kini hewan peliharaan tersebut sedang dalam karantina di Departemen Pertanian, Perikanan dan Konservasi negara tersebut.
Namun, otoritas Hong Kong menyebut bahwa hewan peliharaan itu tidak memiliki gejala dan bukti kuat pun belum ada. Maka, penelitian akan terus dilakukan.
5. Mitos jika konsumsi rempah-rempahan bisa mencegah virus corona
Memang terbukti bahwa jahe, bawang putih, kunyit memiliki nutrisi yang tinggi dan bersifat antimikroba dan antiinflamasi yang menjadikan daya tahan tubuh kita meningkat, tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa mengonsumsi rempah bisa melindungi diri kita dari paparan virus corona.
7. Mitos alat Thermal Scanner bisa mendeteksi COVID-19
Thermal Scanner tidak bisa mendeteksi virus corona. Alat tersebut hanya efektif untuk mendeteksi orang demam. Meskupun demam adalah salah satu gejala, namun, tidak semua demam karena terinfeksi corona.
Virus COVID-19 bisa terdeteksi dengan tes laboratorium.
7.Mitos vaksin untuk pneumonia bisa cegah virus corona
Perlu diketahui bahwa vaksin untuk virus corona belum ada.
Vaksin untuk pneumonia tidak bisa melindungi kita dari virus corona karena virus ini berbeda dan baru. Virus baru perlu vaksin yang baru. Saat ini para peneliti sedang mencoba membuat vaksin untuk melawan COVID-19.
SUMBER: CNN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Update COVID-19 Indonesia: 134 kasus

Avatar

Published

on

tirto
Per Senin (16/3), Achmad Yurianto, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Kemenkes dan jubir penanganan virus corona di Indonesia memberikan pengumuman perihal kasus pasien positif COVID-19 saat ini mencapai 134 kasus.
Ia berkata penambahan ini terjadi karena hasil dari penyelidikan atas orang-orang yang terhubung dengan pasien-pasien positif lainnya dan pernah mengalami kontak langsung.
Pada hari sebelumnya, Minggu (15/3), Indonesia tercatat memiliki 117 kasus virus corona.
Angka tersebut mayoritas penduduk dari Jakarta. Dengan menyebarnya virus corona, pemerintah mengizinkan pada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan dalam penyelidikan terhadap mereka yang terduga pernah mengalami kontak langsung dengan para pasien COVID-19 dengan tetap merahasiakan identitasnya.
Kemudian, pasien Kasus 1, 2, dan 3 dinyatakan telah sembuh dari COVID-19. Kabar ini diumumkan oleh Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan. Ketiganya telah usai dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso dan dipulangkan.
Dalam pelepasan ketiga pasien tersebut, Terawan mengadakan upacara pelepasan dengan memberikan ‘oleh-oleh’ dari Jokowi berupa ramuan jamu yang disebut bisa menjaga daya tahan tubuh.
Ia pun mengingatkan pada masyarakat agar tidak perlu bertindak panik terhadap wabah tersebut karena masih bisa disembuhkan meskipun perlu waktu untuk prosesnya.
Diketahui, ketiga pasien sangat koorporatif dalam masa pemeriksaan dan perawatan selama di RSPI.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Kota Malang

UMM menjadi harapan masyarakat, produksi cairan pembersih tangan

Avatar

Published

on

Website UMM
Menghadapi dan merespons terhadap kelangkaan yang terjadi pada alat-alat individu untuh mencegah COVID-19, seperti masker, sabun cuci tangan, dan cairan pembersih tangan di apotek maupun di toko-toko terdekat, Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang memproduksi cairan pembersih tangan sendiri.
Sebagai langkah preventif, cairan pembersih tangan menjadi hal yang kini masih dicari oleh masyarakat untuk mencegah virus corona. Langkah UMM dengan memproduksi cairan pembersih tangan, atau hand sanitizer adalah bentuk dukungan yang sangat diharapkan oleh masyarakat.
“Keberadaan cairan pembersih tangan ini sudah langka di pasar, bahkan sulit ditemukan di toko atau swalayan manapun. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan formula tepat agar nyaman saat dipakai. Kami memproduksinya dengan massal,” ucap Raditya Weka Nugraheni, penanggung jawab produksi, Malang, Jawa Timur, hari Senin (16/3).
Langkah ini pada awalnya merupakan sebuha usulan dari pimpinan UMM, Rektor Dr Fauzan, terhadap tindakan pencegahan penyebaran virus corona di seluruh area kampus. Kemudian menjadi kegiatan pengabdian dari fakultasnya, Fakultas Ilmu Kesehatan, jelas Raditya.
Pekan ini, Raditya dan timnya memiliki target memasang hand sanitizer di seluruh lorong kampus dan tersebar diberbagai titik.
“Melalui pelibatan mahasiswa, diharapkan mereka agar bisa belajar secara langsung tentang proses pembuatan hand sanitizer,” tutur Raditya. Dalam teknis produksi, UMM akan melibatkan para mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir bersama dengan asisten Lab Teknologi Farmasi.
Pada kesempatan sebelumnya, rektor UMM telah memberikan surat edaran pada seluruh civitas akademika tentang Kewaspadaan dan Pencegahan COVID-19 dan Pengelolaan Perkuliahan. Dalam surat edaran tersebut, Dr Fauzan mengimbau agar seluruh pelaku civitas menjalani hidup yang sehat dan menghindar dari segala penyakit.
Selain itu, kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring dengan memberikan materi penugasan melalui tautan yang bisa diakses dengan internet oleh mahasiswa.
Kampus-kampus yang ada di Malang selain UMM juga meniadakan kegiatan perkuliahan dan menggantinya melalui jaringan online.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Berita

8 WNI positif virus corona di Singapura

Avatar

Published

on

tirto
KBRI Singapura melaporkan WNI yang tercatat positif virus corona di Singapura menjadi delapan orang, per Minggu (15/3).
Ratna Lestari Harjana, Kepala Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar RI Singapura memberikan pernyataan pada siaran pers perihal pengumuman Kemenkes Singapura yang menyebut kasus COVID-19-nya yang ke 212 merupakan WNI Laki-laki usia 64 tahun.
“WNI tersebut dikonfirmasi positif COVID-19 Sabtu pagi dan kini sedang menjalani perawatan di National Center for Infectious Diseases Singapura,” jelasnya.
Sementara, kasus ke-21 Singapura yang merupakan WNI dinyatakan telah sembuh dan telah dipulangkan pada 18 Februari. WNI kasus ke 133 di Singapura adalah wanita berusia 62 tahun, dirawat di National University Hospital. Sementara, WNI kasus ke 147 di Singapura adalah laki-laki berusia 64 tahun yang kini dirawat di NCID, dan kasus ke 152 WNI berjenis kelamin laki-laki dirawat di Singapore General Hospital.
Selain itu, WNI kasus ke 170 di Singapura adalah wanita (56 tahun) yang dirawat di SGH, WNI lelaki (83 tahun) menjadi kasus ke 181 dirawat di Gleneagles Hospital. Terakhir WNI yang menjadi kasus ke 182 adalah wanita (76 tahun) yang juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan kasus ke 181.
Dua dari delapan kasus WNI adalah kasus transmisi lokal dan enam kasus imported cases.
“Adapun dari 7 WNI yang saat ini masih dirawat di RS, enam dalam kondisi stabil dan satu dirawat di ICU,” jelasnya.
Kemudian, tidak lupa KBRI memberi imbauan pada WNI yang mengalami gejala COVID-19 agar segera memeriksakan diri sebelum melakukan sebuah perjalanan agar mencegah penularan.
Di lain sisi, kemenkes Singapura masih terus melakukan tes COVID-19 gratis pada seluruh masyarakatnya.
Untuk seluruh WNI yang ada di Singapura diingatkan oleh KBRI tentang status DORSCON Oranye masih tetap berlaku, maka tingkat waspada tinggi masih harus dimiliki, terkhusus jika menghadiri kegiatan yang terdapat banyak orang, seperti contoh tempat umum.
Dengan tetap menjaga kebersihan diri, dan mengikuti aturan dari pemerintah Singapura agar mendukung upaya pencegahan virus corona.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Trending