Connect with us

Berita

Ketakutan Jepang terhadap kasus infeksi COVID-19: Bisa lebih parah

Avatar

Published

on

radartegal.com
Infeksi akibat virus corona di Jepang saat ini sebanyak 1.023 orang. Diantaranya, sebanyak 706 orang berasal dari kapal pesiar Diamond Princess.
Beberapa ahli mempertanyakan atas pergerakan pemerintah dalam mengatasi banyak kasus virus corona. Pertanyaan ini muncul karena ketakutan ahli apabila kasus infeksi warga Jepang sebenarnya lebih tinggi dari apa yang dilaporkan pihak otoritas Jepang.
Sebelumnya Jepang memiliki data sebanyak 33 orang yang positif virus corona dalam satu hari dan ini adalah angka dengan penyebaran tertinggi sejak pengumuman kasus virus corona oleh Kemenkes setempat.
Masahiro Kami, Direktur Eksekutif Institut Penelitian Tata Kelola Medis, berkata bahwa sangat memungkinkan angka kasus di Jepang lebih banyak dibanding apa yang dilaporkan. Ia beranggapan bahwa informasi yang diungkapkan oleh pemerintah adalah sebuah teori ‘gunung es’.
Meski pasien sudah melewati tahap pengecekan kesehatan, Kami menduga ada banyak orang yang tidak terdiagnosa. Itu karena ada sebagian orang yang tidak memiliki gejala dan tidak memeriksa dirinya ke rumah sakit.
Departemen Kesehatan setempat sudah memberi imbauan pada warganya yang memiliki gejala-gejala seperti suhu badan 37,4 derajat celcius, flu, atau lelah tingkat ekstrem selama empat hari bahkan lebih agar mengkarantinakan diri di rumah.
Sementara untuk warga lansia apabila gejala dialami selama dua hari disarankan untuk melakukan pengecekan kesehatan.
Dikutip dari CNN, Hiroshi Nishiura, ahli epidemologi Universitas Hokkaido, telah menciptakan bentuk statistik baru bersama pemerintah untuk membantu dalam prediksi sebaran virus corona di Jepang. Kemungkinan, Nishiura beranggapan, bahwa Jepang memiliki sebanyak 3.000 kasus dari angka yang terdata.
Namun, terkait dengan banjirnya orang-orang yang menjalani tes kesehatan, Kenji Shibuya, Direktur Institute for Population Health King’s College London, beranggapan bahwa apabila hal tersebut yang mengakibatkan angka kasus yang tinggi .
“Untuk mengurangi kecemasan publik, tes di Jepang harus lebih banyak, dengan prioritas warga senior yang lebih berisiko,” ucapnya.
Darurat Nasional bisa saja terjadi. Hal ini telah menjadi pertimbangan Shinzo Abe, Perdana menteri Jepang. Pasalnya, pemerintah lokal Jepang diizinkan untuk melarang penduduknya untuk melakukan pertemuan di khalayak publik dan mengajak untuk tinggal di rumah sementara.
SUMBER: CNN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Larangan kunjungan delapan negara ke Indonesia

Avatar

Published

on

Pixabay
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengumumkan kebijakan tambahan pemerintah RI tentang pencegahan virus corona di Jakarta, Selasa (17/3).
Untuk bantuan medis, lihat dokku.id
Pemerintah melarang pendatang masuk maupun transit dari delapan negara. Larangan ini diberlakukan untuk mereka yang datang dari Inggris, Swiss, Italia, Spanyol, Jerman, Vatikan, Perancis, dan Italia dalam dua pekan terakhir.
Selain itu, kebijakan khusus masih berlaku terhadap negara Korea Selatan (khususnya Provinsi Gyeongsangbuk-do dan Kota Daegu) dan China.
Sementara, untuk pendatang yang datang selain dari delapan negara tersebut, diharuskan untuk mengisi dan memberikan Kartu Kewaspadaan Kesehatan ke Kantor Kesehatan Pelabuhan sebelum tiba di pintu masuk bandara Indonesia.
Namun, apabila dalam riwayat perjalanan selama dua pekan terakhir bersangkutan dengan negara-negara tersebut, maka pendatang dilarang untuk masuk Indonesia.
Untuk WNI yang akan berkunjung ke salah satu dari delapan negara tersebut, akan dilakukan pemeriksaan tambahan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan setibanya di Indonesia.
Bagi WNA yang ada di Indonesia, perpanjangan izin tinggalnya sudah habis masa berlaku, diberlakukan aturan Permenkumham No. 7 (2020), begitupun dengan kebijakan untuk pemegang KITAP/KITAS dan izin tinggal dinas yang sekarang sedang ada di luar negeri dan izinnya akan berakhir, diberlakukan peraturan yang sama.
Seluruh kebijakan tambahan yang baru ini berlaku mulai Jumat, 20 Maret tahun ini tepat pukul 00.00 WIB. Perlu diketahui bahwa kebijakan ini sementara dan memiiki kemungkinan evaluasi kebijakan yang akan disesuaikan dengan perkembangan yang ada.

Continue Reading

Berita

Update COVID-19 Indonesia: 134 kasus

Avatar

Published

on

tirto
Per Senin (16/3), Achmad Yurianto, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Kemenkes dan jubir penanganan virus corona di Indonesia memberikan pengumuman perihal kasus pasien positif COVID-19 saat ini mencapai 134 kasus.
Ia berkata penambahan ini terjadi karena hasil dari penyelidikan atas orang-orang yang terhubung dengan pasien-pasien positif lainnya dan pernah mengalami kontak langsung.
Pada hari sebelumnya, Minggu (15/3), Indonesia tercatat memiliki 117 kasus virus corona.
Angka tersebut mayoritas penduduk dari Jakarta. Dengan menyebarnya virus corona, pemerintah mengizinkan pada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan dalam penyelidikan terhadap mereka yang terduga pernah mengalami kontak langsung dengan para pasien COVID-19 dengan tetap merahasiakan identitasnya.
Kemudian, pasien Kasus 1, 2, dan 3 dinyatakan telah sembuh dari COVID-19. Kabar ini diumumkan oleh Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan. Ketiganya telah usai dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso dan dipulangkan.
Dalam pelepasan ketiga pasien tersebut, Terawan mengadakan upacara pelepasan dengan memberikan ‘oleh-oleh’ dari Jokowi berupa ramuan jamu yang disebut bisa menjaga daya tahan tubuh.
Ia pun mengingatkan pada masyarakat agar tidak perlu bertindak panik terhadap wabah tersebut karena masih bisa disembuhkan meskipun perlu waktu untuk prosesnya.
Diketahui, ketiga pasien sangat koorporatif dalam masa pemeriksaan dan perawatan selama di RSPI.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Kota Malang

UMM menjadi harapan masyarakat, produksi cairan pembersih tangan

Avatar

Published

on

Website UMM
Menghadapi dan merespons terhadap kelangkaan yang terjadi pada alat-alat individu untuh mencegah COVID-19, seperti masker, sabun cuci tangan, dan cairan pembersih tangan di apotek maupun di toko-toko terdekat, Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang memproduksi cairan pembersih tangan sendiri.
Sebagai langkah preventif, cairan pembersih tangan menjadi hal yang kini masih dicari oleh masyarakat untuk mencegah virus corona. Langkah UMM dengan memproduksi cairan pembersih tangan, atau hand sanitizer adalah bentuk dukungan yang sangat diharapkan oleh masyarakat.
“Keberadaan cairan pembersih tangan ini sudah langka di pasar, bahkan sulit ditemukan di toko atau swalayan manapun. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan formula tepat agar nyaman saat dipakai. Kami memproduksinya dengan massal,” ucap Raditya Weka Nugraheni, penanggung jawab produksi, Malang, Jawa Timur, hari Senin (16/3).
Langkah ini pada awalnya merupakan sebuha usulan dari pimpinan UMM, Rektor Dr Fauzan, terhadap tindakan pencegahan penyebaran virus corona di seluruh area kampus. Kemudian menjadi kegiatan pengabdian dari fakultasnya, Fakultas Ilmu Kesehatan, jelas Raditya.
Pekan ini, Raditya dan timnya memiliki target memasang hand sanitizer di seluruh lorong kampus dan tersebar diberbagai titik.
“Melalui pelibatan mahasiswa, diharapkan mereka agar bisa belajar secara langsung tentang proses pembuatan hand sanitizer,” tutur Raditya. Dalam teknis produksi, UMM akan melibatkan para mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir bersama dengan asisten Lab Teknologi Farmasi.
Pada kesempatan sebelumnya, rektor UMM telah memberikan surat edaran pada seluruh civitas akademika tentang Kewaspadaan dan Pencegahan COVID-19 dan Pengelolaan Perkuliahan. Dalam surat edaran tersebut, Dr Fauzan mengimbau agar seluruh pelaku civitas menjalani hidup yang sehat dan menghindar dari segala penyakit.
Selain itu, kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring dengan memberikan materi penugasan melalui tautan yang bisa diakses dengan internet oleh mahasiswa.
Kampus-kampus yang ada di Malang selain UMM juga meniadakan kegiatan perkuliahan dan menggantinya melalui jaringan online.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Trending