Berita

Jika Mediasi Gagal, Sidang “Class Action” Gagal Ginjal Akut Akan Lanjut Ke Pokok Perkara

Kuasa hukum para korban gagal ginjal akut dari tim advokat kemanusiaan, Siti Habiba, mengungkapkan bahwa sidang class action kasus gagal ginjal akut akan dilanjutkan dengan pemeriksaan pokok perkara jika mediasi tidak mendapat titik temu. Hal ini disampaikannya usai sidang notifikasi class action di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (17/4/2023).

Habiba menjelaskan bahwa jika mediasi berhasil, sidang tetap akan digelar namun Majelis Hakim hanya perlu memutuskan penetapan atas hasil mediasi tersebut. Dalam hal ini, pihak penggugat dan tergugat tidak perlu lagi berdebat terkait pembuktian dan pokok perkara.

Mediasi antara tergugat dan penggugat direncanakan digelar setelah Idul Fitri 2023, meskipun Majelis Hakim belum menentukan tanggal pasti pelaksanaannya. Proses mediasi ini akan berlangsung dalam waktu 30 hari, dan apabila belum mencapai titik temu, mediasi dapat diperpanjang selama 15 hari.

Siti Habiba menambahkan bahwa apabila dalam kurun waktu 45 hari mediasi gagal mencapai kesepakatan, sidang akan dilanjutkan dengan pembuktian pokok perkara dari pihak penggugat.

Sebelumnya, 25 korban gagal ginjal akut akibat obat batuk beracun menggugat 11 pihak secara perdata di PN Jakarta Pusat. Kini, peserta class action telah bertambah menjadi 44 korban setelah Majelis Hakim PN Jakarta Pusat menyetujui format pemberitahuan yang disampaikan kuasa hukum korban gagal ginjal akut di media massa.

Korban menuntut pertanggungjawaban negara dan perusahaan yang dinilai lalai sehingga mengakibatkan anak-anak meninggal atau menderita sakit serius. Adapun 11 pihak tergugat dalam kasus ini meliputi PT Afi Farma Pharmaceutical Industry, PT Universal Pharmaceutical Industry, PT Tirta Buana Kemindo, CV Mega Integra, PT Logicom Solution, CV Budiarta, PT Megasetia Agung Kimia, dan PT Chemical Samudera. Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Keuangan juga termasuk sebagai tergugat.

Berdasarkan data yang dihimpun, Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus gagal ginjal akut mencapai 324 kasus hingga 5 November 2022. Dari jumlah tersebut, tercatat sebanyak 102 orang sudah sembuh, 194 orang lainnya meninggal, dan 28 sisanya masih dalam perawatan.

Perlu dicatat bahwa kasus gagal ginjal akut ini dipicu oleh obat batuk beracun yang mengandung natrium diklofenak dan kafein. Obat tersebut dijual bebas di pasaran tanpa melalui pengawasan yang ketat dari pemerintah dan BPOM, sehingga mengakibatkan banyak anak-anak yang mengonsumsinya mengalami gagal ginjal akut.

Dalam gugatan class action ini, para korban menilai pemerintah dan perusahaan yang tergugat tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dalam mengawasi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Hal ini menyebabkan obat batuk beracun tersebut tetap beredar di pasaran dan mengakibatkan banyak korban.

Majelis Hakim PN Jakarta Pusat pun akan memproses kasus ini dengan cermat dan menyeluruh, mulai dari notifikasi class action hingga proses mediasi antara pihak penggugat dan tergugat. Apabila mediasi tidak berhasil, sidang akan berlanjut dengan pemeriksaan pokok perkara untuk menentukan pertanggungjawaban pemerintah dan perusahaan yang tergugat dalam kasus gagal ginjal akut ini.

Baca berita terbaru lainnya di sini.

Arya Pratama

Arya Pratama adalah seorang jurnalis senior yang fokus pada berita politik. Ia telah bekerja untuk beberapa media terkemuka di Indonesia. Selama kariernya, Arya telah meliput berbagai peristiwa penting di dunia politik Indonesia, termasuk pemilihan umum, sidang parlemen, serta peristiwa-peristiwa penting di tingkat nasional dan internasional.