Connect with us

Kesehatan

Curcumin belum dibuktikan bisa sembuhkan infeksi COVID-19

Avatar

Published

on

Pixabay

Ranah dunia maya di berbagai platform media sosial belakangan ini sempat ramai karena informasi perihal kandungan curcumin yang ada pada kunyit, sereh, temulawak, dan jahe diklaim bisa menyembuhkan virus corona.

Chaerul Anwar Nidom, guru besar Biokimia dan Biologi Molekuler dari Universitas Airlangga menjelaskan bahwa kandungan curcumin yang bisa didapatkan di kunyit, sereh, temulawak dan jahe seperti yang ditulis di unggahan akun instagram @carijamu.

View this post on Instagram

Halo #SobatJamu ! Tau gak sih kenapa Indonesia terbebas dari Virus Corona? INI KUNCINYA Menurut Guru Besar Biokimia & Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Prof. Dr. C.A. Nidom, drh., MS mengatakan _"Infeksi corona high pathogenic yabg terjadi di paru tersebut mengakibatkan terjadi badai sitokin sebagai prises biologis. Badai sitokin ini bisa di tangkal dengan curcumin yang banyak terkandung dalam temulawak, jahe, kunyit dan sereh yang dikonsumsi harian oleh masyarakat Indonesia"._ Nah, sudah tau kan? Kuncinya adalah konsumsi herbal Indonesia aja udah cukup selain juga menjaga kebiasaan hidup sehat ya Sobat! Salam sehat! #SehatKarenaJamu Info lanjut : Website : http://carijamu.com IG : http://instagram.com/carijamu FB : http://facebook.com/carijamu Twitter : http://twitter.com/carijamu E-mail : [email protected] #CariJamu #SehatKarenaJamu

A post shared by Carijamu Herbal Indonesia (@carijamu) on

Ia berkata bahwa infeksi yang disebabkan oleh virus corona sebagian besar terjadi di bagian paru-paru. Ini adalah akibat dari badai sitokin dalam proses biologis tubuh. Badai sitokin tersebut bisa dilawan oleh curcumin.

“Badai sitokin ini bisa ditangkal dengan curcumin yang terkandung banyak di jake, sereh, kunyit, dan temulawak. Dan semuanya banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia,” tulisnya.

Meskipun kabar ini menjadi hal yang sedikit melegakan, Profesor Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Milekuler Eijkman berpendapat sebaliknya. Ia menegaskan bahwa sampai saat ini, curcumin belum terbukti secara klinis bisa menangkal virus tersebut.

“Curcumin secara umum menyeharkan tubuh kita, [tapi] bukan kekebalan spesifik terhadap COVID-19. Setahu saya belum ada kajian yang khusus terhadap curcumin ini,” ucapnya saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com, pada Rabu (19/2).

Kemudian ia melanjutkan penjelasannya terkait curcumin dalam sejumlah kajian yang menunjukkan efek seperti peningkatan daya tahan tubuh, penurunan pada radang, dan sebagai antioksidan. Mengonsumsi curcumin dengan metode jamu sudah dilakukan sejak lama.

Namun, hingga kini, belum ditemukan secara pasti obat yang secara spesifik bisa mengatasi infeksi dari virus corona. Sejumlah rumah sakit telah mencoba dengan menggunakan antivirus yang sudah ada sebelumnya.

Vaksin yang memerlukan waktu lama

Untuk memproduksi satu vaksin, memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun. Tentu proses saat keadaan yang menyeramkan sekarang ini bisa dilakukan dengan singkat atau dengan prosedur fast track.

“WHO mengatakan bisa dipersingkat jadi 18 bulan. Paling cepat 6 bulan, kalau lancar. Tapi saya kira akan memakan waktu lebih dari satu tahun,” ucap Amin.

Proses dalam pengembangan vaksin pun perlu melewati sejumlah tahap. Dimulai dari tahap penemuan bagian dari virus hingga uji vaksin.

“Kalau betul, itu vaksin diuji di hewan. Dilihat apakah menimbulkan reaksi tertentu. Lalu, dicoba ke manusia secara terbatas dan dilihat responsnya juga efek samping,” papar Amin.

Sampai saat ini, setidaknya ada lebih dari 75 ribu kasus infeksi dan lebih dari 2 ribu korban jiwa akibat terinfeksi virus corona di seluruh dunia.

 

SUMBER: CNN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Update COVID-19 Indonesia: 134 kasus

Avatar

Published

on

tirto
Per Senin (16/3), Achmad Yurianto, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Kemenkes dan jubir penanganan virus corona di Indonesia memberikan pengumuman perihal kasus pasien positif COVID-19 saat ini mencapai 134 kasus.
Ia berkata penambahan ini terjadi karena hasil dari penyelidikan atas orang-orang yang terhubung dengan pasien-pasien positif lainnya dan pernah mengalami kontak langsung.
Pada hari sebelumnya, Minggu (15/3), Indonesia tercatat memiliki 117 kasus virus corona.
Angka tersebut mayoritas penduduk dari Jakarta. Dengan menyebarnya virus corona, pemerintah mengizinkan pada pemerintah daerah untuk mengambil kebijakan dalam penyelidikan terhadap mereka yang terduga pernah mengalami kontak langsung dengan para pasien COVID-19 dengan tetap merahasiakan identitasnya.
Kemudian, pasien Kasus 1, 2, dan 3 dinyatakan telah sembuh dari COVID-19. Kabar ini diumumkan oleh Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan. Ketiganya telah usai dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso dan dipulangkan.
Dalam pelepasan ketiga pasien tersebut, Terawan mengadakan upacara pelepasan dengan memberikan ‘oleh-oleh’ dari Jokowi berupa ramuan jamu yang disebut bisa menjaga daya tahan tubuh.
Ia pun mengingatkan pada masyarakat agar tidak perlu bertindak panik terhadap wabah tersebut karena masih bisa disembuhkan meskipun perlu waktu untuk prosesnya.
Diketahui, ketiga pasien sangat koorporatif dalam masa pemeriksaan dan perawatan selama di RSPI.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Berita

8 WNI positif virus corona di Singapura

Avatar

Published

on

tirto
KBRI Singapura melaporkan WNI yang tercatat positif virus corona di Singapura menjadi delapan orang, per Minggu (15/3).
Ratna Lestari Harjana, Kepala Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar RI Singapura memberikan pernyataan pada siaran pers perihal pengumuman Kemenkes Singapura yang menyebut kasus COVID-19-nya yang ke 212 merupakan WNI Laki-laki usia 64 tahun.
“WNI tersebut dikonfirmasi positif COVID-19 Sabtu pagi dan kini sedang menjalani perawatan di National Center for Infectious Diseases Singapura,” jelasnya.
Sementara, kasus ke-21 Singapura yang merupakan WNI dinyatakan telah sembuh dan telah dipulangkan pada 18 Februari. WNI kasus ke 133 di Singapura adalah wanita berusia 62 tahun, dirawat di National University Hospital. Sementara, WNI kasus ke 147 di Singapura adalah laki-laki berusia 64 tahun yang kini dirawat di NCID, dan kasus ke 152 WNI berjenis kelamin laki-laki dirawat di Singapore General Hospital.
Selain itu, WNI kasus ke 170 di Singapura adalah wanita (56 tahun) yang dirawat di SGH, WNI lelaki (83 tahun) menjadi kasus ke 181 dirawat di Gleneagles Hospital. Terakhir WNI yang menjadi kasus ke 182 adalah wanita (76 tahun) yang juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan kasus ke 181.
Dua dari delapan kasus WNI adalah kasus transmisi lokal dan enam kasus imported cases.
“Adapun dari 7 WNI yang saat ini masih dirawat di RS, enam dalam kondisi stabil dan satu dirawat di ICU,” jelasnya.
Kemudian, tidak lupa KBRI memberi imbauan pada WNI yang mengalami gejala COVID-19 agar segera memeriksakan diri sebelum melakukan sebuah perjalanan agar mencegah penularan.
Di lain sisi, kemenkes Singapura masih terus melakukan tes COVID-19 gratis pada seluruh masyarakatnya.
Untuk seluruh WNI yang ada di Singapura diingatkan oleh KBRI tentang status DORSCON Oranye masih tetap berlaku, maka tingkat waspada tinggi masih harus dimiliki, terkhusus jika menghadiri kegiatan yang terdapat banyak orang, seperti contoh tempat umum.
Dengan tetap menjaga kebersihan diri, dan mengikuti aturan dari pemerintah Singapura agar mendukung upaya pencegahan virus corona.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Berita

Kematian pertama akibat COVID-19 di Denmark dan Slovenia

Avatar

Published

on

Pixabay
Melalui salah satu saluran TV Slovenia, melaporkan kasus kematian pertama akibat COVID-19, dikutip dari sumber rahasia.
Per Sabtu (14/3), pemerintah Slovenia mengumumkan ada sebanyak 181 kasus. Korban yang meninggal adalah pria lanjut usia yang memiliki penyakit kronis.
Dengan angka kasus virus corona yang tidak sedikit, Slovenia memberlakukan penutupan sekolah dan pemeriksaan kesehatan disekitar perbatasan Slovenia-Italia. Sementara, untuk transportasi bus dan kereta keberangkatan menuju Italia diberhentikan. Selain itu, perjalanan kargo dibatasi. Kemenlu Slovenia imbau para warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Spanyol dan Italia.
Di negara Denmark, kematian pertama dilaporkan di hari yang sama, Sabtu (14/3). Pasien tersebut meninggal di usia 81 tahun saat berada di rumah sakit di wilayah Kopenhagen.
Sebelumnya, pemerintah Denmark telah mengizinkan universitas dan sekolah untuk menutup sementara. Selain itu, Denmark juga meliburkan para pegawai dilayanan umum dan pekerjaan tertentu.
Tercatat sebanyak 827 kasus positif corona terdapat di Denmark. Untuk waktu selama sebulan, Denmark mengisolasi negaranya untuk mencegah penyebaran virus yang semakin meluas.
SUMBER: Antara

Continue Reading

Trending