Angka tinggi kasus pencabulan di Cianjur • Malang Post News
Connect with us

Kriminal

Angka tinggi kasus pencabulan di Cianjur

Avatar

Published

on

Pixabay

Maraknya kasus pencabulan yang di mana korbannya adalah anak di bawah umur mendapatkan angka tinggi di wilayah Kab. Cianjur, Jawa Barat.

AKP Niki Ramdhany, Kasetreskrim Polres Cianjur sebut jajarannya dari bulan Mei sampai Desember tahun lalu, 2019, telah berhasil mengungkapkan sebanyak sembilan kasus pencabulan tersebut.

Sementara, di awal 2020, pihaknya mengungkap kasus kekerasan seksual pada seorang siswi tingkat SD yang sudah 4 tahun dibawa kabur oleh laki-laki paruh baya lalu dicabuli hingga korban hamil. Hal ini yang sempat menggegerkan publik.

“Ya, trennya memang tinggi di Cianjur ini. Karena itu, kasus asusila ini jadi atensi kita,” ucapnya.

Modus pencabulan

Upaya preventif dan penanganan telah digiatkan dengan keterlibatan dari personil dari Bhabinkamtimbas dan polsek lewat sosialisasi dan penyuluhan ke sejumlah sekolah untuk mengedukasi kasus asusila, seperti upaya pencegahan dan modus yang dilakukan pelaku.

Jajaran Niki berkoordinasi terus bersama instansi dan lembaga yang terkait, khususnya dengan Pemda.

“Kita mengajak peran orangtua untuk meningkatkan pengawasan terhadap keseharian anak-anak mereka,” tutur Niki. “Orangtua harus tahu lingkungan pergaulan anak dan dengan siapa mereka bergaul dan berinteraksi.”

Diberitakan sebelumnya bahwa Polres Cianjur berhasil mengungkapkan sembilan kasus terkait kekerasan seksual pada anak yang dibawah umur.

Pelaku laki-laki paruh baya mengenali korban

Masing-masing tersangka dengan inisial R, NO, MAS, AR, SA, AH, JR, dan S telah diamankan dibeberapa tempat yang ada di Kab. Cianjur, dari Mei-Desember 2019.

Modus para pelaku yang mayoritas adalah laki-laki paruh baya yang memberikan ancaman, membujuk, merayu, dan mengiming-imingi uang pada korban.

Korban dan pelaku masing-masing saling kenal, tetangga dan ada yang memiliki hubungan kerabat dan saudara. Korban rata-rata antara umur 6 sampai 16 tahun.

Para pelaku melakukan hal keji tersebut didorong oleh bermacam faktor seperti kesepian, nafsu yang tak tersalurkan, pengaruh dari video porno, dan kelainan seksual.

Para tersangka dikenakan UU Perlindungan Anak juga KUHP ancaman penjara maksimal 15 tahun.

SUMBER: Kompas

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kriminal

Mayat bayi ditemukan di tempat sampah, Kalimantan Tengah

Avatar

Published

on

Pixabay

Penemuan mayat bayi ini ditemukan oleh warga dari Kuala Kapuas, Kab. Kapuas, Kalimantan Tengah.

Bayi tersebut ditemukan di pembuangan sampah pukul 23.30 WIB, pada Sabtu (15/2) malam hari, Jalan Tjilik Riwut.

Saat ditemukan terlihat seperti mengkilap, maka warga menghampiri dan segera melapor pada warga lain dan pihak kepolisian setempat.

“Saat saya membuang sampah, ada benda berkilap. Ketika saya periksa dengan senter, ternyata orok bayi,” ucap Muhammad Kharil Anwar, warga dari Kelurahan Selat Dalam, Kuala Kapuas, pada Minggu (16/2).

Diduga bahwa bayi tersebut meninggal dunia dan dibuang.

Tidak memakan waktu lama, beberapa petugas dari Polsek Selat mendatangi lokasi penemuan mayat bayi tersebut.

Pihak kepolisian kemudian membawanya ke RSUD dr Soemarno Sostroarmodjo untuk menjalankan pemeriksaan lebih lanjut.

Hingga saat ini, pihak RSUD dr Soemarno Sostroarmodjo dan kepolisian belum memberikan informasi apapun terkait penemuan bayi ini.

SUMBER: Suara

Continue Reading

Kriminal

Rektor Perguruan Tinggi India perintahkan mahasiswinya buka celana

Avatar

Published

on

Pixabay

India memiliki peraturan dalam kepercayaannya yang ketat untuk perempuan yang sedang haid dilarang untuk memasuki kuil dan dapur.

Pada Asrama di distrik Kutch, Gujarat, sebanyak 60 mahasiswi dipaksa untuk telanjang oleh pengurus dengan tujuan untuk membuktikan bahwa mereka tidak sedang haid.

Aksi pelecehan ini dilakukan pengurus asrama karena ada laporan seorang perempuan yang masuk dapur dan kuil saat sedang haid. Dilansir dari The Hindu, pada Jumat tempo hari.

Berdasarkan dari keterangan yang diberikan polisi setempat, pelecehan ini diperintahkan oleh rektor dan kepala sekolah Shree Sahajanand Girls Institute, lembaga yang dimiliki kuil Swaminarayan, Selasa (11/2).

Beberapa gadis mengeluh karena terhina dan terkejut. Mereka melaporkan hal ini pada media lokal di Bhuj, distrik Kutch, hari Kamis (13/2). Sebagian besar mahasiswi tersebut berasal dari desa sekitar distrik Kutch.

“Apa yang terjadi adalah hal yang patut dihukum,” ujar Pravin Pindoria, wali amanat SSGI.

Tetapi, beberapa otoritas dari asrama sudah mempertahankan norma sekte untuk menjauhkan wanita yang sedang haid dari dapur dan kuil.

Seorang mahasiswi mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi di dalam asrama yang berada di kampus SSGI.

Sementara, Komisi Wanita Negara Bagian sudah memberikan perintah untuk menyelidiki insiden tersebut.

“Saya telah berbicara dengan polisi setempat mengenai insiden itu dan tindakan tegas akan dimulai,” ucap Leela Ankolia, Komisi Wanita Negara Bagian.

Kemudian, dari Komisi Nasional untuk Perempuan telah ikut serta mencari laporan.

“Kami telah mengirim tim polisi di bawah inspektur wanita untuk berbicara dengan gadih-gadis itu dan sedang dalam proses pengajuan tuntutan. Meski gadis-gadis tersebut tidak siap untuk maju, kami yakin bahwa setidaknya satu gadis akan maju untuk mengajukan tuntutan,” ucap Saurabh Tolumbia, Inspektur Polisi Kutch West.

Gujarat Nitin Patel, Wakil Kepala Menteri dan Amit Chavda, Ketua Kongres Negara sangat menyesali atas insiden ini. Patel berkata bahwa Departemen Pendidikan perlu ambil tindakan.

Chavda menuntut pada pemerintah negara bagian untuk memerintahan penyelidikan dan segera menangkap semua pihak yang bertanggung jawab atas tindakan yang menurunkan martabat gadis-gadis SSGI.

 

SUMBER: Suara

 

Continue Reading

Berita

Temuan KPK saat sidak PN Jakarta Barat

Avatar

Published

on

Tim dari Pengaduan masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi mendapatkan temuan dari inspeksi mendadak di Pengadilan Negeri Jakarta Barat berupa uang sebesar 15 juta rupiah yang diduga adalah hasil dari gratifikasi.
Inspeksi mendadak ini adalah tindak lanjut dari laporan pengawas MA tentang dugaan gratifikasi pada oknum pegawai pengadilan.
“Dalam operasi tersebut, ditemukan barbuk uang Rp15 juta. Meski jumlah ini terbilang kecil, tapi hal ini perlu dilakukan,” ujar Ali Fikri, jubir Penindakan KPK, “Ini dilakukan sekaligus untuk memperkuat Aparat Pengawasan Intern pemerintah (APIP),” lanjutnya, Jakarta, pada Rabu (12/2).
Ali menjelaskan bahwa tindakan ini adalah sebuah bentuk trigger mechanism dari KPK agar hal tersebut tidak diulang lagi.
Dengan latar belakangnya sebagai jaksa, Ali memberikan penjelasan tindak lanjut sidak sepenuhnya jadi wewenang Badan pengawas MA. Namun, KPK akan siap membantu jika dibutuhkan.
“Tindak lanjut operasi tersebut sepenuhnya menjadi wewenang Bawas MA, baik melakukan pemeriksaan pihak-pihak terkait yang diduga sebagai penerima maupun sebagai pemberi uang,” ujarnya.
Pihak Ali memberikan ultimatum pada aparatur yang bertugas di lingkungan kekuasaan kehakiman untuk menghindar dari suap, pemerasan, gratifikasi atau penerimaan dengan bentuk apa pun.
“Kerja sama KPK-Bawas MA ini diharapakan jadi aspek jera agar pegawai lain baik panitera, Hakim, dan para pegawai lingkungan MA untuk tidak melakukan hal yang serupa,” tegasnya.
SUMBER: CNN

Continue Reading

Trending