Aplikasi Tangi dari Google • Malang Post News
Connect with us

Teknologi

Aplikasi Tangi dari Google

Avatar

Published

on

Tangi.co

Google adalah perusahaan jasa dan produk internet multinasional yang berasal dari Amerika Serikat.

Misinya untuk mengumpulkan informasi dunia dan bisa diakses juga bermanfaat bagi semua orang dengan teknologi pencarian mereka di internet.

Tidak hanya itu, perangkat lunak, komputasi web, dan periklanan online adalah produk teknologi mereka.

Baru-baru ini Google memperkenalkan platform baru di sektor media sosial mereka. Dengan berbasis video yang singkat pada platform tersebut, aplikasi ini adalah hasil kerja sama tim gabungan di Area 120, aplikasi tersebut adalah Tangi.

Area 120 adalah program inkubasi Google untuk mengerjakan proyek-proyek eksperimental Google.

“Tangi merupakan tempat orang-orang kreatif bisa mendapatkan ide baru dan terhubung dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama,” ucar Coco Mao, pimpinan tim dari aplikasi Tangi. Dikutip dari tulisan blog resmi dari Google, hari Jumat (31/1).

Tangi ini isinya adalah kumpulan-kumpulan video tutorial atau video DIY (Do It Yourself), seperti merancang baju, memasak, hingga melukis. Tangi ini merupakan singkatan dari kalimat “Teach and Give” yang artinya belajar dan beri, juga dari kata “tangible” yang artinya suatu hal yang berwujud, yang bisa dibuat dan bisa juga bermanfaat bagi penggunanya.

Platform ini bentuknya serupa dengan blog, hanya dalam video tutorial singkat dengan durasi selama 60 detik.

Selain video membuat sendiri, pengguna pun bisa membagi video hasil masing-masing meniru dari tutorial orang lain lewat fitur “Try It“.

Fitur “Try It” ini pengguna bisa buat perkumpulan atau komunitas bagi orang yang menyukai video tutorial atau kreasi tertentu.

Aplikasi Tangi sudah tersedia di App Store Apple untuk iPad dan iPhone, atau situs Tangi.co. Namun, aplikasi Tangi belum tersedia di Play Store Google Indonesia.

SUMBER: Antara

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknologi

Internet termahal di dunia ada di Afrika

Avatar

Published

on

Pixabay

Internet adalah sistem jaringan komputer yang terhubung secara global dengan menggunakan protokol internet untuk saling menghubungkan perangkat ke seluruh dunia.

Kini sebagian besar media komunikasi tradisional seperti telepon, radio, tv, dan surat kabar dibentuk ulang dengan keterhubungan internet menjadi email, tv internet, musik online, kabar digital, email, dan situs web.

Dengan perkembangan teknologi yang pesat, jumlah pengguna internet semakin besar dan berkembang juga. Internet memiliki pengaruh yang besar pada pandangan dunia dan ilmu.

Namun, dengan mengglobalnya internet, tentu aksesnya tidak semua bisa dilewati atau dimasuki. Bahkan ada juga yang perlu melakukan perjuangan besar untuk mendapatkan internet.

Seperti yang terjadi di negara-negara Afrika, akses internet di sana disebut yang paling mahal di dunia.

Diambil dari data The Alliance for Affordable Internet, rata-rata warga Afrika perlu menghabisan sebanyak 7,12% dari pendapatan mereka untuk 1 GB akses internet saja.

Hasil ini diambil dari A4AI terhadap 136 negara yang penduduknya berpenghasilan menengah ke rendah.

Negara yang berpenghasilan menengah diantaranya Indoa, Afrika Selatan, Kolombia, Ghana, Jamaika dan Malaysia. Sedangkan negara yang berpenghasilan rendah yaitu Mozambik, Yaman, Liberia, Mali, dan Nepal.

Penduduk dari Kongo, membayat akses internet 1 GB sebanyak 20% dari gaji yang didapatkan. Dilansir dari CNN.com, pada Minggu (16/2).

Di mesir, penduduknya membayar 0,5% dari pendapatannya untuk akses internet, sedangkan 0,59% warga Mauritus harus keluarkan dari pendapatannya untuk internet.

Bagaimana bisa internet di negara lain mudah terjangkau dibanding di Afrika?

Salah satu penulis jurnal memberikan pendapat bahwa internet yang mahal di Afrika dikarenakan pasar yang lemah dan ada unsur monopoli. A4AI telah memberikan rekomendasi dalam liberalisasi pasar dan langkahnya untuk meningkatkan pasar dalam daya saingnya. Menurutnya, hal ini akan mengurangi biaya akses internet apabila pasar monopoli diubah menjadi pasar multioperator.

Menurut Direktur Riset The Web Foundation, Dhanaraj Thakur, yang diperlukan Afrika adalah kombinasi peran pemerintah dan strategi.

“Pemerintah bisa memanfaatkan dana pelayanan universal lebih baik untuk menyediakan akses di daerah yang kurang terlayani dan harus ada ruang bagi masyarakat dan kota setempat untuk terlibat dalam penyediaan layanan yang dirasa paling sesuai untuk daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

 

SUMBER: CNN

Continue Reading

Teknologi

Kado 15 tahun Google Maps dari seorang warga Jerman

Avatar

Published

on

Seniman asal Jerman, Simon Weckert memberikan kado ulang tahun Google Maps yang ke 15 dengan cara yang unik.
Pasalnya, seniman tersebut membawa ponsel sebanyak 99 unit yang ia taruh di troli kecil dengan keadaan aplikasi Google Maps yang aktif.
Ia berjalan menarik trolinya mengitari jalanan kota Berlin.
Ini ia lakukan dengan tujuan untuk mencari tahu seperti apa Google Maps mendeteksi kemacetan.
Kemanapun ia membawa ponsel-ponsel itu, Google Maps memberikan peringatan macet dan kepadatan kendaraan.
Kemacetan palsu ini berhasil Weckert buat.
Meski Google Maps memunculkan tanda kemacetan, aplikasi ini akan memberikan rute lebih cepat dan baru secara otomatis untuk pengendara yang menurut Google Maps macet.
Dikutip Business Insider, Weckert selama ini telah memainkan mekanisme tersebut untuk memprediksi kemacetan lalu lintas.
“Tidak ada yang namanya data netral. Data selalu dikumpulkan untuk tujuan tertentu, dengan mengombinasikan teknologi, uang, pemerintah, perdagangan dan orang,” jelas Weckert.
Ia kemudian bercerita bahwa percobaannya ini dilakukan pada musim panas tahun kemarin, tetapi baru ia publikasi hasil percobaannya minggu ini dalam rangka ulang tahun Google Maps ke-15.
Ia menambahkan bahwa keinginannya untuk memberitahu pada orang-orang untuk tidak percaya begitu saja pada teknologi.
SUMBER: Kompas

Continue Reading

Teknologi

Peluncuran Facebook 16 tahun lalu, hari ini

Avatar

Published

on

Pixabay
Tepat pada tanggal 4 Februari 2004 silam, masyarakat internet diperkenalkan pada platform sosial media, Facebook.
Facebook ciptaan mahasiswa Harvard jurusan Ilmu Komputer, Mark Zuckerberg bertujuan untuk komunikasi antar mahasiswa di Harvard.
Kemudian Facebook berkembang dengan pesat setelah pertama diluncurkan, sebanyak 1.200 hingga 1.500 mahasiswa mendaftar selama 24 jam.
Facebook yang kini merangkul beberapa platform besar seperti WhatsApp dan Instagram, berkembang menjadi perusahaan medsos yang paling signifikan dalam histori internet.
Sebelumnya, Mark membuat aplikasi mencari jodoh yang disebut FaceMash.
Dari platform tersebut, mahasiswa Harvard bisa memilih satu dari dua wanita yang dipilih acak.
FaceMash ini menjadikan Mark sebagai artis di kampusnya.
Meski begitu, FaceMash tidak memiliki umur pajang.
Melihat dari hasil FaceMash, ia kemudian melihat peluang untuk membuat jaringan sosial untuk seluruh kampus.
Setelah Facebook yang telah terkenal di lingkungan Harvard, Mark kemudian pindah ke kampus yang lain di Boston.
Kendati demikian, dari kejayaan Facebook ada celah kontroversi di mana Facebook memungkinkan tersebarnya berita dan akun palsu. Facebook dinilai telah menjual data pengguna-pengguna Facebook, dan sudah gagal dalam melindungi data pengguna.
SUMBER: Kompas

Continue Reading

Trending