Billie Eilish akan nyanyikan lagu tema film terbaru James Bond
Connect with us

Hiburan

Billie Eilish akan nyanyikan lagu tema film terbaru James Bond

Avatar

Published

on

Virgin Radio Jakarta

Billie Eilish, penyanyi baru yang sedang naik daun, merasa bangga karena terpilih untuk membawakan juga menulis lagu tema dari film James Bond terbaru, “No Time to Die”.

Penyanyi yang berusia 18 tahun ini, menulis lagu tema bersama dengan saudaranya, Finneas O’Connell. Mereka akan menjadi musisi termuda di dalam sejarah soundtrack dari film James Bond, mengikuti sejarah musisi film James Bond sebelumnya seperti Madonna, Adele, juga Paul McCartney menurut produser film tersebut yang ia unggah di akun media sosial Twitter @007.

Film yang terbaru dengan judul “No Time to Die” ini adalah film serialnya James Bond yang ke-25. Film ini akan tayang di bulan April mendatang. Karakter James Bond akan diperankan kembali oleh Daniel Craig. Daniel terhitung sudah memerankan peran ini sebanyak lima kali dan ini adalah kali terakhirnya.

Billie Eilish terkenal pada tahun 2019 dengan lagunya yang berjudul “All the Good Girls Go to Hell” dan “Bad Guy”. Penyanyi remaja ini mengisi enam nominasi di Grammy, termasuk di kategori unggulan ‘Album of the Year’ dan ‘New Artist’.

“Rasanya gila menjadi bagian dari ini. Bisa membawakan lagu tema dari film legendaris adalah suatu kebanggaan besar. James Bond adalah franchise film paling keren yang masih ada. Saya masih sangat terkejut,” kata Billie pada pernyataannya.

Ia merekam dan menulis sendiri dari sebagian lagu di album debutnya “When We Fell Asleep, Where Do We Go?” bersama-sama dengan kakaknya, di kamar yang sempit di rumah mereka yang berada di Los Angeles.

“Menulis lagu tema untuk film Bond adalah hal yang kami impikan sepanjang hidup,” ujar kakak Billie, Finneas.

Lagu tema James Bond yang dinyanyikan oleh Adele, “Skyfall” di tahun 2012 telah memenangi piala Oscar, Golden Globe, dan Grammy. Sementara itu, lagu “Spectre” yang dibawakan Sam Smith memenangkan piala Oscar dinominasi lagi orisinal terbaik di tahun 2016.

SUMBER: Antara

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hiburan

The Rise of Skywalker, film Star Wars dengan ulasan terburuk

Avatar

Published

on

Star Wars: The Rise of Skywalker menjadi film dengan ulasan yang terburuk versi Rotten Tomatoes. Situs khusus ulasan film tersebut memberi nilai pada film Star Wars dengan J.J Abrams sebagai sutradara ini sebesar 52% saja.

Film yang jadi penutup dari film trilogi Star Wars tersebut mengalahkan film Star Wars: The Phantom Menace dengan ulasannya sebesar 53%, mengingat film ini dirilis di tahun 1999 silam.

Maka, tidak heran jika Rotten Tomatoes beri nilai ulasan yang rendah untuk film terakhir Star Wars ini. Sekiranya sebesar 80% cerita pada film ini terkesan memaksa dan terlalu hiperbola, seperti cerita tempelan yang tak menyatu dengan semesta yang Star Wars miliki secara menyeluruh.

Film The Rise of Skywalker seperti dibikin hanya sebatas untuk formalitas dan raup untung untuk menutup dari film trilogi Star Wars.

Bagian cerita yang terkesan sangat memaksa yaitu asal-usul Rey, yang diperankan olek aktris Daisy Ridley. Di film tersebut menjelaskan orang tua dari Rey adalah anak dari Emperor Palpatine, sang sith yang terkuat dan jahat juga lahir di sana. Artinya, Rey adalah cucu dari Palpatine.

Karakter yang dimiliki Palpatine ini sempat muncul di film sebelumnya, dua trilogi Star Wars. Palpatine diceritakan tewas dalam film Star Wars: A New Hope, tahun 1977. Ia tewas di bunuh oleh, tak lain, Darth Vader. Namun, secara tiba-tiba Palpatine bangkit dan hidup kembali di film The Rise of Skywalker, sangat dipaksa sekali.

Seharusnya, Palpatine tak perlu kembali dihidupkan hanya untuk beri tahu ia adalah kakek Rey. Chris Terrio juga J.J Abrams adalah penulis naskah film tersebut. Mestinya mereka bisa mengemas cerita dengan elegan, bukan malah dengan cara yang instan dan terkesan murahan.

Selain itu, pada film Star Wars: The Empire Strikes Back pada tahun 1980 silam masih jadi film Star Wars yang terbaik dengan nilai 94% dari ulasan film. Mengikut film tersebut, Star Wars: A New Hope, tahun 1977, juga Star Wars: The Force Awakens, tahun 2015 yang masing-masing memiliki nilai ulasan sama, 93%.

SUMBER: CNN

Continue Reading

Hiburan

TVRI akan tayangkan serial dari China

Avatar

Published

on

asumsi.co

LPP TVRI, Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia, kini akan memberikan tayangan yang baru, yaitu beberapa serial tv dan dokumenter dari China.

Melansir dari Cinhua, penayangan ini adalah bentuk kerja sama antara Guangxi Radio & Television Information Network Corp.Ltd. dan TVRI. Dari laporan yang dimiliki Antara, TVRI sudah memiliki kerja sama dengan Guangxi dari tahun 2007.

Konten tersebut akan dibagi menjadi dua program. Drama China yang akan menayangkan film serial dan dokumenter-dokumenter dari Miracle China. Keduanya akan di isi dengan suara berbahasa Indonesia.

Serial yang akan ditayangkan salah satunya adalah Trial Marriage. Sementara, dokumenter yang akan diputar mengisahkan kehidupan di China.

Wapres Guangxi, Zheng Kui, mengharap bahwa tayangan ini akan memberikan gambaran tentang kehidupan orang-orang China. Menurutnya, masyarakat Indonesia dan masyarakat China punya kemiripan dalam nilai budaya dan kehidupan.

Selain untuk hiburan, kerja sama kedua pihak pun adalah bentuk dari peringatan hubungan diplomatik Indonesia dan China yang sudah berjalan selama 20 tahun. Kedua negara ini sudah memiliki hubungan diplomatik semenjak 1950.

“China telah memproduksi banyak film dan serial TV. Saya percaya bila itu ditayangkan di TV Indonesia, akan bisa bersaing dengan drama asal Asia lain yang dinikmati oleh orang Indonesia,” ujar Elizani Nadia Sumampouw, Deputi Direktur Kementerian LN Indonesia untuk Wilayah Asia Timur dan Pasifik.

Lewat pesan singkat, CNNIndonesia telah menghubungi Apni Jaya Putra, Direktur Program dan Berita TVRI, untuk meminta konfirmasi atas tayangan tesebut. Tetapi, hingga saat ini ia belum merespon.

SUMBER: CNN

Continue Reading

Hiburan

Dolittle: Duet pensiunan Iron Man dan Sutradara Thriller politik

Avatar

Published

on

screencrush.com

Kegiatan berburu, terutama pada hewan, sudah dipraktekan jauh sebelum manusia mengenal tentang tulisan. Dari kegiatan yang bisa menyambung hidup, memburu berubah haluan jadi hobi bahkan menjadi tradisi yang turun-temurun.

Film Dolittle, yang akan rilis tahun ini, mengambil latar di Inggris, pada pertengahan abad 19, saat masyarakat Inggris waktu itu dalam naungan perintah Ratu Victoria. Mereka mulai mempertanyakan pantas atau tidaknya tradisi berburu. Peraturan tentang perlindungan pada binatang pun mulai dirancang agar umat manusia dapat membangun sebuah “surga” untuk seluruh spesies.

Stephen Gaghan, sebagai penulis naskah dan pengarah film Dolittle adaptasi dari buku anak terkenal yaitu The Voyages of Doctor Dolittle tahun 1922, karya Hugh Lofting. Gaghan terkenal dengan titel sutradara dari film yang telah ia buat dengan genre thriller politik dan kriminal, Syriana tahun 2005, juga telah memenangkan piala award Oscar pada kategori Best Original Script.

Keputusannya untuk menjadi sutradara film Dolittle dengan genre petualangan imanijatif ini memang suatu hal yang mengejutkan. Meski begitu, ia mengawali film genre ini dengan cukup yakin. Seperti sedang melihatkan sebuah paradoks, Gaghan memulai ceritanya dengan adegan di mana penciptaan satu kebun binatang yang mengkhususkan para hewan eksotis dan disambung ke aktivitas berburu oleh keluarga Stubbins, sebagai keluarga pemburu.

Tommy Stubbins yang diperankan oleh aktor Harry Collett, anak yang tumbuh berbeda dengan keluarganya. Tommy digambarkan dengan karakter yang lembut, sehingga ia tidak tega untuk memburu binatang. Karena itu, ia sering kena marah oleh pamannya yang menganggap bahwa Tommy adalah perusak citra keluarga.

Film Dolittle ini sebenarnya memiliki potensi yang cukup untuk membangkitkan semangat penonton, terutama bagi penonton yang mencintai binatang dan tertarik dengan sejarah dari pelindungan fauna. Tetapi kebenarannya berkata lain. Latar belakang dan cerita karakter yang rumit tak imbang dengan narasi yang telah dibuat dengan rapi. Gaghan malah memasukkan banyak potongan film yang diluar konteks agar bisa ditonton anak-anak.

Komposisi adegan dan cerita pada film Dolittle ini buruk, bahkan sosok RDJ (Robert Downey Jr) yang sudah pensiun memerankan Iron Man belum cukup menyelamatkan film tersebut. Menjadikan sutradara genre thriller politik agaknya kurang bijak untuk menyutradarai film bergenre fantasi seperti Dolittle ini.

SUMBER: Tirto

Continue Reading

Trending