Pembina Pramuka diduga cabuli anak didik • Malang Post News
Connect with us

Kriminal

Pembina pramuka SMP di Gunungkidul diduga cabuli anak didik saat kemping

Avatar

Published

on

Tempo.co

Seorang pembina pramuka dari salah satu Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta dilaporkan telah mencabuli beberapa siswinya.

Perbuatan tersebut diketahui setelah ada orangtua murid melaporkan perbuatan itu ke pihak sekolah.

Pelaku berinisial ED mengaku telah mencium beberapa anak didik perempuannya setelah dihadapkan langsung dengan orangtua murid SMP tersebut.

Pertemuan antara ED dan orangtua murid sempat ramai di media sosial.

Beberapa orangtua yang tidak menerima perbuatan tidak senonoh ini kemudian melaporkan kasus ini ke Polsek Gedangsari.

AKP Solechan selaku Kapolsek Gedangsari mengatakan, sudah ada 7 orang saksi dan korban diperiksa dalam kasus pencabulan ini.

ED mengakui telah melakukan pencabulan ini pada bulan Agustus dan Desember 2019 lalu.

“Dengan merayu beberapa siswi didiknya dilakukan ciuman juga hal lainnya,” ujar Solechan, Jumat, 10 Januari 2020.

Pelaku diduga melakukan aksi pencabulan kepada muridnya di sekolah dan perkemahan yang berada di Sleman, Yogyakarta.

Murid yang menjadi korban aksi pencabulan ED mengalami trauma.

Solechan mengatakan, orangtua korban yang sudah melapor ke Polsek Gendangsari diarahkan untuk kembali melapor kasus ini ke Polres Gunungkidul.

 

SUMBER: Tribun

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Otak pembunuhan sopir taksi daring dituntut hukuman mati

Avatar

Published

on

Pixabay

Orang sebagai terdakwa otak dari pembunuhan sopir daring di Palembang agar dihukum mati dan kedua rekannya yang sudah lebih dulu divonis mati.

Petikan atas tuntutan tersebut dibaca oleh Jaksa Penuntut Umum Kejati Sumsel, Purnama Sufyan pada terdakwa Akbar Al Faris (34 tahun) di sidang yang berada di Pengadilan Negeri kelas IA Palembang, hari Kamis (16/1).

“Atas perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam perumusan dakwaan ke satu primer pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana dan menuntut terhadap terdakwa dengan pidana mati,” jelas JPU saat membacakan tuntutan.

JPU yakin bahwa terdakwa sudah terbukti meyakinkan dan sah telah melakukan perbuatan yang melawan hukum dengan sadar dan sengaja untuk menghilangkan nyawa orang lain dengan terencana dan bermaksud untuk menguasai harta dan benda milik korban.

Diketahui Akbar adalah otak dari pembunuhan berencana ini. Pembunuhan ini merenggut nyawa seorang supir taksi online di Palembang yang bernama Sofyan (41 tahun) di bulan Oktober tahun 2018 lalu.

Aksinya ini terungkap setelah istri korban , Fitriani (32 tahun) melaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumsel karena suaminya tidak kunjung pulang ke rumah setelah mengantarkan penumpang di bulan Oktober 2018.

Polda Sumsel lalu segera membentuk tim pencarian keberadaan Sofyan dan pelaku begal lain. Hasil dari pencarian kemudian menemukan salah satu pelaku yang bernama Ridwan dan ia berhasil ditangkap polisi di Kab. Musi Rawas, 11/11/2018.

Dari hasil pemeriksaan Ridwan, diketahui bahwa jenazah ditemukan di daerah perkebunan yang berada di Kab. Muratar. Jenazah ditemukan dalam kondisi hanya tulang belulang saja. Polisi pun berhasil menemukan dan menangkap dua orang pelaku lainnya yaitu FR dan Acuan.

Tetapi, Akbar baru ditangkap polisi pada bulan Agustus tahun 2019 yang artinya ia buron selama 10 bulan lamanya.

Acuan dan Ridwan telah divonis dengan hukuman mati oleh PN Palembang, 24 April tahun lalu. sedangkan untuk pelaku FR dijatuhkan hukuman penjara selama 10 tahun karena ia di bawah umur.

Atas tuntutan hukuman mati ini, Akbar segera mengajukan pledoi karena ia merasa keberatan atas hukumannya meski ia sudah mengakui pasrah dengan tuntutan itu.

“Saya keberatan dengan tuntutan itu karena saya masih punya anak-anak kecil dan saya ini tulang punggung keluarga, maka saya akan ajukan pledoi,” ujar terdakwa saat ditemui usai sidangnya.

Sidang pun akan dilanjut hari Kamis, 23 Januari beragendakan pembacaan pledoi.

SUMBER: Antara

Continue Reading

Kriminal

CNN Indonesia: “Banjir Jakarta adalah Air Mata Malaikat yang Jatuh”, benarkah?

Avatar

Published

on

ANTARA

Sebuah tangkapan layar atau screen capture yang diklaim tersebar di media daring CNN Indonesia kembali dibahas oleh netizen.

Tangkapan layar tersebut mengenai artikel yang berjudul “KORLAP FPI: BANJIR DI JAKARTA ADALAH AIR MATA MALAIKAT YANG JATUH, SEBAB MALAIKAT TERHARU PADA ALUMNI 212 YANG SERING SHOLAT MASSAL DI MONAS” yang mengundang banyak komentar di media sosial Facebook.

Salah satu akun pengguna Facebook yang mengunggahnya di hari Kamis (16/1) pukul 00.07 WIB.

Namun, apakah benar CNN Indonesia telah menurunkan berita yang berjudul sesuai dengan unggahan akun tersebut?

Penjelasan CNN:

Setelah media ANTARA melakukan sebuah penelusuran dari hal tersebut, Bowie Haryanto, yang tertulis pada unggahan tersebut memang benar bekerja sebagai salah satu reporter CNN Indonesia di kanal olahraga.

Tetapi, tidak ada satu pun berita yang ditulisnya dengan judul di atas.

Setelah diusut, ternyata unggahan dari tangkapan layar tersebut sudah pernah beredar di platform-platform media sosial di tahun 2017.

Melalui akun resmi Twitternya, CNN Indonesia memberikan sebuah klarifikasi terhadap foto hasil screen capture yang sudah memakai nama mereka.

CNN Indonesia berkata bahwa berita itu bukan berasal dari situs CNNIndonesia.com dan sama sekali tidak pernah ada di situs kepunyaan mereka.

“Kami menyesalkan pembuatan dan peredaran berita tersebut karena bisa menimbulkan persepsi negatif pada media kami, narasumber, dan pihak lain yang disebutkan dalam berita palsu itu,” demikian bunyi konfirmasi dari CNN Indonesia.

Sudah dikonfirmasi bahwa unggahan tersebut adalah hoaks.

SUMBER: Antara

Continue Reading

Berita

Jaksa KPK tuntut penyuap Dirut PTPN III 2 tahun penjara

Avatar

Published

on

Pixabay

Jaksa KPK telah menuntut Pieko Njotosetiadi selama 2 tahun penjara karena terbukti sudah menyuap Dirut PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, Dolly Parlagutan Pulungan, dengan nilai Rp3,55 miliar perihal pembelian gula kristal putih.

“Menyatakan, terdakwa Pieko Njotosetiadi terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana selama 2 tahun da pidana denda sebesar Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan,” tegas JPU KPK, Subari Kurniawan, saat di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), di Jakarta, hari Rabu.

Tuntutan ini didasari dakwaan alternatif kedua pasal 5 ayat 1 huruf b UU No. 31 th. 1999 yang diubah menjadi UU no. 20 tahun 2001 perihal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Hal yang memberatkan, terdakwa tidak mendukung upaya pemerintah dan masyarakat yang sedang giat-giatnya memberantas korupsi khususnya pada sektor pangan sebagai kebutuhan dasar masyarakat. Hal yang meringankan, terdakwa berlaku sopan, belum pernah dihukum, menyesali perbuatan dan sering sakit serta lanjut usia,” ungkap Jaksa Penuntut Umum.

Dalam kasus ini Pieko sebagai Direktur Utama PT Fajar Mulia Transindo dan juga sebagai Penasihat di PT Citra Gemini Mulia yang terbukti telah memberikan sejumlah uang yang besar sebanyak 345 ribu dolar Singapura atau setara dengan Rp3,55 miliar ke Dolly Parlagutan Pulungan sebagai Dirut PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Persero, melalui Direktur Pemasaran PT PTPN III, I Kadek Kertha Laksana.

Pemberian uang suap ini penyebabnya karena Kadek dan Dolly sudah memberikan LTC (Long Term Contract). Kontrak jangka panjang tersebut mewajibkan pembelian gula lewat ikatan perjanjian dengan PTPN III dengan harga yang ditentukan setiap bulannya sesuai dengan jumlah beli. Kontrak ini juga mencegah adanya permainan dari pembelian gula yang saat harga gula rendah dan tidak membeli saat harga tinggi.

Rapat Dewan Direksi yang dipimpin Dolly, setuju dengan LTC itu dengan strategi di sektor pemasaran yang dikoordinirkan PTPN III dengan gula sebagai produk utamanya.

Dari seluruh syarat sistem jual LTC, hanya perusahaan milik Pieko yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan karena perusahaan lain merasa keberatan atas syarat yang dibuat PT PTPN III terutama syarat pembelian dan pembayaran DP sebesar 40% dari harga gula.

SUMBER: Antara

Continue Reading

Trending