Benda paling kotor di kamar Hotel • Malang Post News
Connect with us

Gaya Hidup

Benda paling kotor di kamar Hotel

Avatar

Published

on

Saat traveling, hotel jadi salah satu pilihan akomodasi yang pasti digunakan traveler untuk menginap. Tapi gak cuman itu, menginap di hotel jadi hal yang menyenangkan, karena kamu akan dimanjakan dengan fasilitas yang lengkap, seperti kasur empuk, AC dingin, sampai makanan yang enak.

Tapi, ternyata nginep di kamar hotel juga punya sisi buruknya. Meskipun selalu dibersihkan setiap hari, kamar tetap memiliki benda-benda kotor yang mungkin gak kamu sadari.

Dilansir Newscom.au, ternyata ada satu benda yang paling kotor di kamar horel, yaitu sofa. Meskipun terlihatnya bersih, sofa hotel ternyata jadi tempatnya bakteri, virus, bahkan jamur.

Menurut Dr. Nidhi Ghildayal, PhD, spesialis penyakit menular di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Minnesora, sofa jadi benda yang paling susah dibersuhkan secara keseluruhan.

“Sering kali noda pada kursi diseka dan digosok sampai diangkat, tetapi kuman lain yang tidak terlihat oleh mata tetap ada,” katanya.

Staff hotel kadang punya waktu yang terbatas untuk membersihkan seluruh benda yag ada di kamar itu, termasuk sofa yang terkadang sering diabaikan kebersihannya.

Ini diperparah dengan tamu hotel yang biasanya menghabiskan banyak waktunya untuk duduk di sofa, menyimpan barang bawaannya di atasnya, bahkan simpen pakaian kotor dan sepatu di atas sofa.

Gak cuman itu, ada remote TV dan karpet yang jadi benda paling kotor karena paling jarang dibersihin.

Selain itu, mesin kopi juga menjadi salah satu benda yang cukup kotor di kamar hotel. Bahkan beberapa waktu lalu, wisatawan pernah menemukan jamur dalam mesin pembuat kopi di hotel yang dia inapi.

Gimana menurut kamu?

SUMBER: Kumparan

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Gerakan makan telur di Sukabumi cegah stunting

Avatar

Published

on

Pixabay

Sukabumi meluncurkan program konsumsi telur agar menekan angka dari kondisi stunting. Stunting adalah kondisi anak yang memiliki tinggi yang lebih rendah dibanding standar pada usianya. Gerakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan gizi yang didapat pada anak-anak.

Launching gerakan konsumsi daging ayam dan telur yang bertempat di Posyandu Gatot Kaca, Jl. Kolabereus Salaeurih, Kel. Dayeuhluhur, Kec. Warudoyong, pada hari Rabu 22 Januari. “Upaya ini untuk membebaskan kota Sukabumi dari stunting,” ujar Achmad Fahmi, Walkot Sukabumi.

Gerakan ini disebut oleh Fahmi adalah pemberian asupan yang bergizi dengan memberikan protein hewani dari telur ayam. Langkah ini dilakukan supaya anak dan cucu tumbuh berkembang dengan normal.

Program tersebut menurut Fahmi, dari setiap posyandu akan diberikan satu peti penuh telur ayam, sebanyak 200 butir. Maka nanti, satu anak akan dapat sebanyak dua butir telur dan semuanya diberi pada anak supaya mendapat asupan makanan bergizi dengan lebih baik dan tumbuh dengan normal seperti yang diharap semua orang tua.

Ia berkata bahwa bantuan program CSR tersebut capai sebanyak 12 peti dalam satu bulan atau artinya ada 2.400 butir telur dalam satu tahun. “Targetnya anak Sukabumi makin sehat dan kasus stunting di Sukabumi bisa dituntaskan,” tambahnya.

Berdasarkan info yang diperoleh oleh Fahmi, Sukabumi masih memiliki kasus stunting pada beberapa wilayah. Ia kemudian berharap bahwa kota Sukabumi bebas dari peristiwa stunting.

Kardina Karsoedi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sukabumi, ikut berpendapat bahwa gerakan ini mendapatkan dukungan dari distributor telur yang dipasok satu bulan sekali antara hari Rabu dan Sabtu.

Telur-telur tersebut didistribusi melewati Pemerintah Kota Sukabumi dan disambung ke warga.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Kesehatan

Dokter China yang selidiki virus korona mengaku terinfeksi

Avatar

Published

on

Republika

Satu orang dokter China yang sedang menyelidiki wabah dari virus mematikan yang baru mengaku telah terinfeksi oleh virus tersebut.

Kepala Departemen Pengobatan Paru dari Peking University First Hospital Beijing, Wang Guangfa, jadi bagian dari tim ahli yang pada awal bulan Januari ini sempat mengunjungi Wuhan, asal tempat dari virus korona.

Media televisi pemerintah China memberikan laporan di hari Rabu pagi, Wang kini sedang dalam ruang isolasi dan diberikan perawatan sejak hari Selasa karena diduga terkena infeksi dari virus korona.

“Saya terdiagnosa dan kondisi saya baik-baik saja,” ucap Wang pada Cable TV Hong Kong, Selasa (21/1). Ia tidak lupa menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang masyarakat berikan padanya.

Jumlah korban yang meninggal dunia akibat virus korona yang menyerupai flu, telah dikonfirmasi oleh para pejabat bahwa virus tersebut bisa menular pada sesama manusia, menjadi enam orang korban, per Selasa (21/1). Jumlah dari kasus virus yang sudah dilaporkan melonjak menjadi 300 kasus lebih. Sementara, ada 15 orang petugas medis yang ikut terkena infeksi juga.

Wang, pada saat itu sedang melakukan penelitian perihal infeksi saluran pernapasan berat (SARS) pada tahun 2003, berkata ia sedang dalam perawatan medis dan akan diberikan suntikan. Namun, ia tidak menceritakan tentang bagaimana ia terkena infeksi virus itu.

“Saya tak mau semua orang terlalu memperhatikan kondisi saya,” sebutnya pada kanal berita China.

Pada tanggal 10 Januari ia berkata pada media wabah dari virus korona tampak terkendali, karena sebagian dari pasien memiliki gejala-gejala yang ringan dan beberapa sudah boleh dipulangkan.

SUMBER: Antara

Continue Reading

Kesehatan

Penderita penyakit kritis di Jabar di atas rata-rata Nasional

Avatar

Published

on

Pixabay

Total orang dengan penyakit kritis di Jabar di atas rata-rata Nasional.

“Seperti penyakit jantung. 1,6% masyarakat di Jabar menderita penyakit jantung,” jelas dr. Laura Anasthasya, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Premier Jatinegara pada seminar PRUTotal Critical Protection, Bandung, Senin 20 Januari.

dr. Laura berkata bahwa jumlah ini melebihi dari rata-rata yang nasional miliki, yaitu 1,5%. Begitu pula dengan penyakit hipertensi masyarakat Jawa Barat sebanyak 9,67%, dengan rata-rata nasional sebanyak 8,36%.

Begitupun dengan penyakit stroke. Penyakit stroke diderita sebanyak 11,4%, angka ini melebihi angka rata-rata nasional yang hanya sebanyak 10,9%. Juga gagal ginjal sebesar 0,48%, di atas rata-rata nasional 0,38%.

“Itu merupakan data yang diambil dari Riset Dasar 2018. Riset tersebut menunjukkan berbagai jenis penyakit memiliki prevalensi yang melebihi rata-rata nasional,” tutur dr. Laura.

Selain dengan disebabkan jumlah penduduk dengan angka besar, penyakit kritis itu bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Untuk itu, imbauan pada masyarakat untuk tidak terpaku mengindar hanya satu penyakit tertentu saja.

Bermacam-macam masalah kesehatan bisa terus bertambah karena dari banyak faktor yang mendukung seperti gaya hidup, perubahan iklim, dan globalisasi.

“Kondisi penyakit semakin banyak karena kurang aktivitas fisik, makanan pengawet, rokok, dan lainnya,” ungkapnya.

Maka dari itu, masyarakat Jawa Barat perlu untuk mengantisipasi dari ancaman penyakit kritis dengan cara mengubah gaya hidupnya dan lebih menyadari akan mahalnya kesehatan.

Penyakit kritis bisa berimplikasi ke aspek psikologis, finansial, dan sosial yang tergoyangkan stabilitas masa depan keluarga dan ekonomi.

“Apalagi beberapa jenis penyakit seperti akibat kecelakaan dan bencana tidak ditanggung BPJS,” tutur dr. Laura.

Masyarakat diminta agar mawas diri, menjalani pola hidup yang sehat, istirahat dengan cukup, dan rajin untuk medical check up.

“Lakukan medical check up untuk mencegah, bukan medical check up setelah sakit,”.

SUMBER: Kompas

Continue Reading

Trending