5 ketakutan terbesar ibu baru • Malang Post News
Connect with us

Pendidikan

5 ketakutan terbesar ibu baru

Avatar

Published

on

Menjadi ibu bukan perkara mudah. Fakta yang muncul belakangan ini membuktikan bahwa ibu baru ternyata rentan mengalami stress karena berbagai tantangan. Baik yang muncul dari diri sendiri ataupun tekanan lingkungan sekitarnya. Psikolog dari platform KALM, Wenny Aidina, memaparkan 5 ketakutan terbesar di ibu baru dan cara menguranginya, agar ibu baru bisa menjalani kehidupan pasca persalinan dengan baik.

  1. Takut menjalani proses persalinan

Ini terjadi pad aibu baru karena minimnya pengalaman dan kurangnya informasi mengenai proses persalinan. Selain itu, calon ibu biasanya lupa untuk nyiapin mental agar bisa menerima kondisi di luar rencana. Banyak juga yang lebih banyak terlalu larut dalam euphoria persiapan pernak-pernik bayi. Biar ketakutan ini gak terjadi, ada hal yang dapat dilakukan seperti mengikuti kelas persiapan persalinan dan merencanakan proses persalinan.

  1. Takut tidak bisa menyusui

Sebagai ibu baru, pasti punya keinginan untuk memberikan ASI eksklusif pada anaknya. Sayangnya, gak semua ibu bisa langsung menyusui dengan lancar. Gimana kalau ASI nya macet? Gimana kalau sampe tiga hari ASI gak keluar, haruskah memberi susu formula pada bayi?

Untuk mengurangi ketakutan ini, sebaiknya ibu mengikuti kelas persiapan menyusui atau seminar tentang pemberian ASI. Ini bakal bikin ibu mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang dapat dilakukan sebelum melahirkan untuk melancarkan produksi ASI dan cara menyusui yang tepat. Mengikuti kelas ini bikin ibu merasa lebih tenang karena punya gambaran tentang apa yang bakal terjadi, apa yang bisa diantisipasi, dan punya solusi kalau mengalami hambatan.

  1. Takut tidak bisa menjadi orang tua yang baik

Menjadi ibu baru tentu ada pengalaman awal yang dimiliki sebagai orang tua. Minimnya pengalaman yang dimiliki ibu untuk berinteraksi dengan bayi dan anak-anak bisa mempengaruhi kepercayaan diri si ibu dalam merawat dan mengasuh anaknya. Maka itu, mengikuti kelas parenting, membaca literasi, atau menonton video parenting sejak masih hamil atau saat perencanaan hamil adalah cara yang oke untuk merasa lebih yakin pada kemampuan diri merawat anak.

Selain itu, ibu juga bisa konsultasi ke ahli untuk mendapatkan masukan mengenai prinsip dasar dalam pengasuhan anak. Jangan lupa untuk libation suami dalam persiapan pengasuhan ini, karena membesarkan anak adalah tanggung jawab suami dan istri.

  1. Takut kondisi finansial tidak cukup

Gak dipungkiri bahwa kehamilan, persalinan, dan membesarkan anak butuh biaya banyak. Untuk mampu mencukupi biaya persalinan, pastinya butuh perencanaan finansial yang matang,. Suami dan istri harus merancang bersama alokasian keuangan keluarga, prioritas keuangan, anggaran persalinan dan pasca persalinan, dari mana anggaran tersebut akan diambil, dan rencana cadangan kalau-kalau terjadi hal diluar dugaan.

  1. Takut bayi lahir tidak sehat

Salah satu hal yang paling diharapkan oleh ibu hamil adalah memiliki bayi yang sehat secara fisik dan mental. Karena itu, banyak ibu yang khawatir bayinya punya kelainan, harus dirawat di NICU, atau tumbuh besar dengan kondisi khusus.

Kekhawatiran mengenai kesehatan ini biasanya bisa diminimalisir dengan rutin periksa kandungan. Hal ini bisa bikin ibu merasa lebih tenang karena mendapatkan laporan mengenai perkembangan bayi. Menjaga asupan nutrisi, menjauhi hal yang berpotensi menimbulkan cacat janin dan meningkatkan aspek spiritual untuk ketenangan batin bisa jadi solusi untuk ngurangin ketakutan ini.

Jangan lupa, dukungan dari pasangan dan keluarga juga sangat penting. Menjadi pendengar yang baik dan tidak menyangkal perasaan sang ibu hamil selama kehamilan dan pasca kadang bisa ngurangin cemas. Gak ngasih penilaian negative dan menghormati pilihan orang tua untuk anaknya adalah cara untuk membuat ibu lebh nyaman menjalani proses kehamilan dan persalinan.

 

SUMBER: Kumparan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Gerakan makan telur di Sukabumi cegah stunting

Avatar

Published

on

Pixabay

Sukabumi meluncurkan program konsumsi telur agar menekan angka dari kondisi stunting. Stunting adalah kondisi anak yang memiliki tinggi yang lebih rendah dibanding standar pada usianya. Gerakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan gizi yang didapat pada anak-anak.

Launching gerakan konsumsi daging ayam dan telur yang bertempat di Posyandu Gatot Kaca, Jl. Kolabereus Salaeurih, Kel. Dayeuhluhur, Kec. Warudoyong, pada hari Rabu 22 Januari. “Upaya ini untuk membebaskan kota Sukabumi dari stunting,” ujar Achmad Fahmi, Walkot Sukabumi.

Gerakan ini disebut oleh Fahmi adalah pemberian asupan yang bergizi dengan memberikan protein hewani dari telur ayam. Langkah ini dilakukan supaya anak dan cucu tumbuh berkembang dengan normal.

Program tersebut menurut Fahmi, dari setiap posyandu akan diberikan satu peti penuh telur ayam, sebanyak 200 butir. Maka nanti, satu anak akan dapat sebanyak dua butir telur dan semuanya diberi pada anak supaya mendapat asupan makanan bergizi dengan lebih baik dan tumbuh dengan normal seperti yang diharap semua orang tua.

Ia berkata bahwa bantuan program CSR tersebut capai sebanyak 12 peti dalam satu bulan atau artinya ada 2.400 butir telur dalam satu tahun. “Targetnya anak Sukabumi makin sehat dan kasus stunting di Sukabumi bisa dituntaskan,” tambahnya.

Berdasarkan info yang diperoleh oleh Fahmi, Sukabumi masih memiliki kasus stunting pada beberapa wilayah. Ia kemudian berharap bahwa kota Sukabumi bebas dari peristiwa stunting.

Kardina Karsoedi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sukabumi, ikut berpendapat bahwa gerakan ini mendapatkan dukungan dari distributor telur yang dipasok satu bulan sekali antara hari Rabu dan Sabtu.

Telur-telur tersebut didistribusi melewati Pemerintah Kota Sukabumi dan disambung ke warga.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Pendidikan

ACT Tasikmalaya bantu bangun rumah warga prasejahtera

Avatar

Published

on

Republika

Lembaga filantropi ACT (Aksi Cepat Tanggap) Tasikmalaya memberikan bantuan untuk membangun rumah milik salah satu warga prasejahtera yang berlokasi di Desa Cisempur, Kec. Cibalong, Kab. Tasikmalaya. Renovasi rumah tersebut adalah salah satu dari program Mobile Social Rescue tim ACT Tasikmalaya dalam mengatasi masalah terkait sosial di wilayah tersebut.

M Fauzi Ridwan, perwakilan dari tim ACT dalam program ini berkata bahwa pada saat ini proses terkait pembangunan baru akan segera berlangsung. ACT sebelumnya telah melakukan riset pendataan ke tempat tinggal pemilik, Hadi (75) dan istrinya.

“Ahad kemarin kita menyambangi kediaman kakek Hadi untuk mengabarkan rumahnya akan dibangun sekaligus mencari lahan untuk pembangunan rumahnya, mengingat kakek dan istrinya sebelumnya tinggal di tengah hutan tanpa tetangga satupun,” ujarnya pada keterangan resmi, hari Rabu 22 Januari.

Ia menjelaskan bahwa Hadi adalah laki-laki paruh baya yang tinggal bersama dengan istrinya di gubuk yang tidak layak untuk dihuni. Gubuknya berdiri di tengah-tengah hutan dan tidak ada tetangga satupun.

Fauzi menambahkan tentang kondisi tempat tinggal kakek Hadi hanya berupa tempelan kayu-kayu dan kain bekas seadanya. “Lebih mirip dengan sebuah kandang kambing. Banyak celah di dinding itu, membuat udara dingin serta air hujan mudah masuk ke dalam rumah. Di rumahnya pun tak ada fasilitas MCK,” tambahnya.

Selain itu, istri kakek Hadi mengidap stroke semenjak lima tahun kebelakang. Kondisinya pun sulit untuk beraktivitas. Hadi yang bertugas untuk mengurus istrinya selama ia sakit.

“Sudah tinggal di gubuk, tidak punya tetangga, kakek Hadi juga harus mengurusi istrinya yang sakit seorang diri,” ungkapnya.

Kakek Hadi tak bisa menahan tangis saat menerima kunjungan ke rumahnya dari tim MSR ACT Tasikmalaya, Desa Cisempur, Kec Cibalong, Kab. Tasikmalaya, hari Minggu 19 Januari lalu. Kedatangan tim tersebut bertujuan untuk memberikan kabar perihal rumah yang akan dibangun kembali agar layak dihuni.

“Alhamdulillah saya bahagia bercampur haru, akhirnya akan punya rumah yang layak untuk ditempati,” tutur Hadi.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Kriminal

KPAI khawatir dampak psikologi siswa yang menjadi saksi bunuh diri

Avatar

Published

on

Pixabay

Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI telah mengungkapkan kekhawatiran lainnya di balik kasus siswi SMP yang bunuh diri, SN, siswi SMPN 147, yang melompatkan diri dari ketinggian lantai 4 gedung sekolah tersebut, beberapa hari lalu.

Retno Listyarti, Komisioner KPAI, berkata ketika SN menjatuhkan diri, sekiranya ada sebanyak 30 siswa lain yang ada di lapangan sekolah tersebut. Siswa-siswa itu melihat secara langsung peristiwa yang tidak semestinya manusia lihat.

“Kami mengkhawatirkan dampak psikologis yang dialami anak-anak tersebut,” ujarnya saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com, pada hari Selasa 21 Januari.

Para murid yang menyaksikan tubuh ambrok penuh darah, menurut Retno, memiliki potensi ganggungan perkembangan pada psikologinya. KPAI pada pertemuannya kemarin sudah merekomendasikan agar siswa yang jadi saksi peristiwa tersebut diberi pendamping secara intensif.

“Dalam hal ini KPAI mendorong Kementerian PPA untuk menugaskan para psikolog anak untuk memberikan pendamping,” katanya.

Sebelum itu, ia mengaku belum mendapatkan motif dari perundungan dibalik kasus SN yang bunuh diri ini.

“Lebih ke alasan kondisi keluarga,” jawabnya.

Siswi SN dikenal oleh kebanyakan siswa, memiliki teman dan kelompok bermainnya. Ini artinya, Retno sebut bahwa sosok SN ini bukanlah siswi yang menyendiri, menjadi objek perundungan teman-temannya, atau siswi yang anti-sosial.

“Kemungkinan alasan kehilangan seperti itu yang menjadi latar belakangnya, tapi KPAI tetap menghormati penyidikan polisi yang lebih berwenang,” ujarnya.

SUMBER: CNN

Continue Reading

Trending