Kenapa kita harus mengajarkan memasak pada anak • Malang Post News
Connect with us

Pendidikan

Kenapa kita harus mengajarkan memasak ke anak kita?

Avatar

Published

on

“Apakah kamu pernah membuat kue sebelumnya?” Saya bertanya kepada Quinn, 9, pada awal sesi pengujian resep baru-baru ini di Boston. Dia tampak sedikit gugup ketika dia menggelengkan kepalanya. Tetapi setelah dua jam kemudian, Quinn dengan hati-hati melapisi kuenya, walapun sedikit miring, dengan bangga dia menyajikan sepotong kue kepada orang tuanya. Dia telah memanggang kue pertamanya, dengan hanya sedikit bantuan.

Sejak itu, Quinn telah membuat secara teratur di rumah dan menerapkan apa yang dia pelajari – seperti mengukur semua bahan sebelum mulai memanggang. Dan meskipun ia pasti menikmati saat mencicipi hasil kreasinya, ia juga menemukan kegembiraan berbagi makanan yang dibuatnya dengan orang lain, dari muffin untuk teman-temannya hingga kue untuk tim sepak bolanya.

Sebagai pemimpin redaksi dari America’s Test Kitchen Kids, sebuah perusahaan yang mengembangkan resep untuk anak-anak, saya telah menyaksikan banyak adegan seperti ini dan mendengar cerita tentang kemenangan seperti itu dari anak-anak di seluruh negeri. Baik itu seorang anak berusia 11 tahun yang menemukan rasa sukanya pada tomat atau seorang anak berusia 8 tahun yang dengan gembira memasak sepotong ayam pertamanya untuk keluarganya, masing-masing mengingatkan saya pada nilai dari mengajarkan anak-anak untuk memasak dan membuat kue dari usia muda. Anak perempuan saya, Olive, baru berumur 2,5 tahun, tetapi saya melihat keinginan Olive untuk membantu mengerjakan tugas-tugas sederhana, seperti mencampur, mengaduk, menggulung atau memencet, telah terlihat minat pada makanan dan cara kerjanya – hal ini juga dapat mengembangkan masa kecilnya.

Saya tahu itu tidak mudah. Memasak bisa menajdi berantakan jika tidak ada bantuan,gula bubuk bertebaran dimana-mana. Dan baik persiapan maupun pembersihannya membutuhkan kesabaran. Itulah mengapa ini sedikit membantu ketika kita punya waktu, seperti ketika kita mencari aktivitas di dalam ruangan yang baru selama liburan.

Memasak dengan baik merupakan bentuk dari seni. Bahkan lebih dari itu. Ini adalah cara untuk mengajarkan keterampilan yang vital untuk anak-anak abad ke-21, seperti pemikiran kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Ini mengundang anak-anak untuk membuat koneksi ke dunia yang lebih luas dengan bertanya, “Dari mana makanan kita berasa?” dan “Apa sejarah resep ini?” dan itu memungkinkan mereka untuk menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam konteks baru.

Mengukur bahan-bahan, mengatur skala resep ke atas atau ke bawah dan menggulung adonan ke dimensi tertentu adalah tugas yang sering dilakukan dalam memasak atau membuat kue. Mereka juga menguji kemampuan matematika koki muda. “Kita membutuhkan tiga ini, kan?” kata Zaniyah, 9, memegang seperempat sendok teh. Kami mengukur bahan untuk granola, dan tidak ada sendok ukur dengan ukuran 3/4. Jadi dia menggunakan pengetahuannya tentang pecahan.

Memasak juga membawa konsep sains ke kehidupan. Ambil mayones sebagai contoh. misalnya. Pada sesi lain baru-baru ini, setelah menambahkan kuning telur, jus lemon, mustard, gula dan garam ke dalam mangkuk, anak-anak perlahan menambahkan minyak, menciptakan mayo yang lembut. Ya, beberapa dari mereka melakukannya. Yang lain sedikit tergesa-gesa dan menambahkan minyak sekaligus, meninggalkan kekacauan menjadikanny rusak dan berlebihan minyak. Itu adalah kesempatan sempurna bagi mereka untuk mengetahui bahwa minyak dan air biasanya tidak bercampur dan bagaimana emulsi membuat keduanya menyatu dengan baik – jika kita menambah minyak sedikit demi sedikit.

Kegagalan dalam membuat resep seperti ini penting karena kedepannya akan membuahkan keberhasilan, karena itu mengajarkan mereka untuk terus berusaha. Ketika Helen, 11, mengeluarkan kuenya dari oven, dia malu dan kecewa mendapatkan kue itu rata seperti papan. Saya memberi tahu dia, ketika saya remaja, saya tidak sengaja membuat kue dengan bubuk bawang putih, seharusnya bubuk jahe. Kemudian kami bekerja bersama untuk mencari tahu apa yang salah dengan kuenya (dua sendok teh baking powder yang tersisa di konter adalah petunjuk yang sangat membantu).

Di luar keterampilan praktis, memasak juga membangun karakter. Ini mendorong anak-anak untuk bekerja dengan orang lain untuk menghasilkan hasil akhir dan meningkatkan kepercayaan diri mereka ketika mereka memimpin dalam mengemas makan siang mereka sendiri, membuat kue liburan atau membantu untuk menyiapkan makan malam di atas meja. Ini juga mendorong mereka untuk terbuka pada makanan yang mungkin belum pernah mereka coba. Jad, 11, belum pernah makan quinoa sebelum menguji resep untuk quinoa dengan rempah-rempah. Orang tuanya melaporkan bahwa dia sangat tertarik tentang bahan baku ini sehingga dia memasaknya untuk makan malam keluarga keesokan harinya, dan itu telah menjadi bagian dari rotasi menu sampingan mereka sejak itu.

Tentu saja bagian terbaik dari memasak bersama anak-anak bukanlah keterampilan STEM atau bahkan pelajaran hidup. Meski terdengar murahan, ini adalah kenangan yang kita buat bersama di dapur. Tahun ini, Olive dan saya sudah banyak membuat kue liburan, termasuk kue cokelat favorit kami. Ya, itu mengharuskan saya menyimpan satu set pakaian tambahan (untuk kita masing-masing) di dekatnya, tetapi jika dia ingat saat dia menyadari bahwa menggigit adonan adalah hal yang dapat diterima dan lezat, saya dengan senang hati akan melupakan kekacauan dalam pengalaman itu.

 

SUMBER: TIME

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Gerakan makan telur di Sukabumi cegah stunting

Avatar

Published

on

Pixabay

Sukabumi meluncurkan program konsumsi telur agar menekan angka dari kondisi stunting. Stunting adalah kondisi anak yang memiliki tinggi yang lebih rendah dibanding standar pada usianya. Gerakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan gizi yang didapat pada anak-anak.

Launching gerakan konsumsi daging ayam dan telur yang bertempat di Posyandu Gatot Kaca, Jl. Kolabereus Salaeurih, Kel. Dayeuhluhur, Kec. Warudoyong, pada hari Rabu 22 Januari. “Upaya ini untuk membebaskan kota Sukabumi dari stunting,” ujar Achmad Fahmi, Walkot Sukabumi.

Gerakan ini disebut oleh Fahmi adalah pemberian asupan yang bergizi dengan memberikan protein hewani dari telur ayam. Langkah ini dilakukan supaya anak dan cucu tumbuh berkembang dengan normal.

Program tersebut menurut Fahmi, dari setiap posyandu akan diberikan satu peti penuh telur ayam, sebanyak 200 butir. Maka nanti, satu anak akan dapat sebanyak dua butir telur dan semuanya diberi pada anak supaya mendapat asupan makanan bergizi dengan lebih baik dan tumbuh dengan normal seperti yang diharap semua orang tua.

Ia berkata bahwa bantuan program CSR tersebut capai sebanyak 12 peti dalam satu bulan atau artinya ada 2.400 butir telur dalam satu tahun. “Targetnya anak Sukabumi makin sehat dan kasus stunting di Sukabumi bisa dituntaskan,” tambahnya.

Berdasarkan info yang diperoleh oleh Fahmi, Sukabumi masih memiliki kasus stunting pada beberapa wilayah. Ia kemudian berharap bahwa kota Sukabumi bebas dari peristiwa stunting.

Kardina Karsoedi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sukabumi, ikut berpendapat bahwa gerakan ini mendapatkan dukungan dari distributor telur yang dipasok satu bulan sekali antara hari Rabu dan Sabtu.

Telur-telur tersebut didistribusi melewati Pemerintah Kota Sukabumi dan disambung ke warga.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Pendidikan

ACT Tasikmalaya bantu bangun rumah warga prasejahtera

Avatar

Published

on

Republika

Lembaga filantropi ACT (Aksi Cepat Tanggap) Tasikmalaya memberikan bantuan untuk membangun rumah milik salah satu warga prasejahtera yang berlokasi di Desa Cisempur, Kec. Cibalong, Kab. Tasikmalaya. Renovasi rumah tersebut adalah salah satu dari program Mobile Social Rescue tim ACT Tasikmalaya dalam mengatasi masalah terkait sosial di wilayah tersebut.

M Fauzi Ridwan, perwakilan dari tim ACT dalam program ini berkata bahwa pada saat ini proses terkait pembangunan baru akan segera berlangsung. ACT sebelumnya telah melakukan riset pendataan ke tempat tinggal pemilik, Hadi (75) dan istrinya.

“Ahad kemarin kita menyambangi kediaman kakek Hadi untuk mengabarkan rumahnya akan dibangun sekaligus mencari lahan untuk pembangunan rumahnya, mengingat kakek dan istrinya sebelumnya tinggal di tengah hutan tanpa tetangga satupun,” ujarnya pada keterangan resmi, hari Rabu 22 Januari.

Ia menjelaskan bahwa Hadi adalah laki-laki paruh baya yang tinggal bersama dengan istrinya di gubuk yang tidak layak untuk dihuni. Gubuknya berdiri di tengah-tengah hutan dan tidak ada tetangga satupun.

Fauzi menambahkan tentang kondisi tempat tinggal kakek Hadi hanya berupa tempelan kayu-kayu dan kain bekas seadanya. “Lebih mirip dengan sebuah kandang kambing. Banyak celah di dinding itu, membuat udara dingin serta air hujan mudah masuk ke dalam rumah. Di rumahnya pun tak ada fasilitas MCK,” tambahnya.

Selain itu, istri kakek Hadi mengidap stroke semenjak lima tahun kebelakang. Kondisinya pun sulit untuk beraktivitas. Hadi yang bertugas untuk mengurus istrinya selama ia sakit.

“Sudah tinggal di gubuk, tidak punya tetangga, kakek Hadi juga harus mengurusi istrinya yang sakit seorang diri,” ungkapnya.

Kakek Hadi tak bisa menahan tangis saat menerima kunjungan ke rumahnya dari tim MSR ACT Tasikmalaya, Desa Cisempur, Kec Cibalong, Kab. Tasikmalaya, hari Minggu 19 Januari lalu. Kedatangan tim tersebut bertujuan untuk memberikan kabar perihal rumah yang akan dibangun kembali agar layak dihuni.

“Alhamdulillah saya bahagia bercampur haru, akhirnya akan punya rumah yang layak untuk ditempati,” tutur Hadi.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Kriminal

KPAI khawatir dampak psikologi siswa yang menjadi saksi bunuh diri

Avatar

Published

on

Pixabay

Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI telah mengungkapkan kekhawatiran lainnya di balik kasus siswi SMP yang bunuh diri, SN, siswi SMPN 147, yang melompatkan diri dari ketinggian lantai 4 gedung sekolah tersebut, beberapa hari lalu.

Retno Listyarti, Komisioner KPAI, berkata ketika SN menjatuhkan diri, sekiranya ada sebanyak 30 siswa lain yang ada di lapangan sekolah tersebut. Siswa-siswa itu melihat secara langsung peristiwa yang tidak semestinya manusia lihat.

“Kami mengkhawatirkan dampak psikologis yang dialami anak-anak tersebut,” ujarnya saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com, pada hari Selasa 21 Januari.

Para murid yang menyaksikan tubuh ambrok penuh darah, menurut Retno, memiliki potensi ganggungan perkembangan pada psikologinya. KPAI pada pertemuannya kemarin sudah merekomendasikan agar siswa yang jadi saksi peristiwa tersebut diberi pendamping secara intensif.

“Dalam hal ini KPAI mendorong Kementerian PPA untuk menugaskan para psikolog anak untuk memberikan pendamping,” katanya.

Sebelum itu, ia mengaku belum mendapatkan motif dari perundungan dibalik kasus SN yang bunuh diri ini.

“Lebih ke alasan kondisi keluarga,” jawabnya.

Siswi SN dikenal oleh kebanyakan siswa, memiliki teman dan kelompok bermainnya. Ini artinya, Retno sebut bahwa sosok SN ini bukanlah siswi yang menyendiri, menjadi objek perundungan teman-temannya, atau siswi yang anti-sosial.

“Kemungkinan alasan kehilangan seperti itu yang menjadi latar belakangnya, tapi KPAI tetap menghormati penyidikan polisi yang lebih berwenang,” ujarnya.

SUMBER: CNN

Continue Reading

Trending