Taraji P. Henson: Orang kuat juga bisa sakit mental • Malang Post News
Connect with us

Kesehatan

Taraji P. Henson ingin mengingatkan kamu bahwa orang kuat saja memiliki masalah mental

Avatar

Published

on

Pixabay

Dari semua hal ini, yang paling membanggakan, Henson adalah pendukung kuat untuk kesadaran kesehatan mental

Ketika kamu mengenal Taraji P. Henson sebagai aktris pemenang Golden Globe dan nominasi Oscar, seorang ibu, dan seorang vegan (yang membuat pengecualian untuk coklat Kinder Bueno), kamu mungkin tidak sadar bahwa dia ingin kita berbicara tentang kesehatan mental secara terbuka. Menanyakan kepada orang-orang bagaimana keadaan mereka, dan untuk benar-benar mendengarkan jawaban mereka. Satu hal yang pasti: kami mendengatkan Taraji dengan seksama.

Dari semua hal ini, yang paling membanggakan, Henson sangat mendukung untuk kesadaran akan kesehatan mental

Lebih dari setahun yang lalu, Henson meresmikan Yayasan Boris Lawrence Henson untuk menghormati ayahnya yang menderita masalah kesehatan mental setelah perjalanan tugas Perang Vietnam. Melalui BLHF, Henson bekerja untuk memberantas stigma seputar kesehatan mental di komunitas Afrika-Amerika dengan menawarkan layanan kesehatan mental kepada kaum muda di sekolah-sekolah perkotaan dan memberikan beasiswa kepada siswa Afrika-Amerika yang mengejar karir di bidang kesehatan mental.

Kami duduk bersana Henson untuk membahas bagaimana bahkan mereka yang kelihatannya paling kuat, namun berjuang dengan kesehatan mental mereka – sama seperti karakter Empirenya Cookie Lyon, dan seperti halnya Henson sendiri.

HG: Jadi, musim terakhir Empire sedang berjalan lancar, dan kami baru tahu bahwa Cookie sedang dalam terapi. Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang perjalanan kesehatan mentalnya dan mengapa penting untuk menunjukkannya?

Taraji P. Henson: Tentunya penting untuk menunjukkan [perjalanan kesehatan mentalnya]. Kami sudah menyerang isu ini melalui Andre – putra tertua [Cookie dan Lucious] di Empire. Tapi saya pikir untuk karakter yang semua orang anggap sangat kuat, baik untuk melihat bahwa bahkan orang yang kuat pun membutuhkan bantuan. Sebagian besar orang yang menganggap diri mereka kuat sebenarnya membutuhkan pertolongan paling banyak, karena itu adalah jubah, topeng atau sebagainya. Saya pikir ini bagus untuk Cookie. Saya pikir dia belajar banyak tentang dirinya sendiri – tentang apa yang membuatnya di bawah kendali Lucious begitu lama, mengapa dia tidak bisa meninggalkan situasi itu ketika memang seharusnya dia lakukan, dan hanya mencoba memahami pilihan yang dia buat dalam hidupnya.

HG: Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang misi Anda dengan Boris Lawrence Henson Foundation dan pentingnya terapis yang kompeten secara budaya?

TPH: Ya. Anda tidak bisa memberi saya banyak terapi jika Anda tidak memahami trauma saya dan dari mana asalnya. “Kompeten secara budaya” tidak berarti Anda harus berkulit hitam – Anda hanya perlu memahami hal yang kami perjuangkan. Jadi, itu penting, terutama ketika berhadapan dengan masalah mental dan trauma mereka. Saya harus merasa cukup nyaman dengan seseorang untuk berbicara dengan mereka dalam keadaan saya yang rentan, dan saya harus merasa mereka mengerti akan masalah itu.

Saya pikir itulah yang membuat banyak orang kulit hitam menjauh dari terapi –para terapis tidak terlihat seperti kita. Kami hanya mewakili empat persen terapis di seluruh bidang.

Kami [Yayasan Boris Lawrence Henson] ingin menempatkan lebih banyak terapis di sekolah agar kami dapat mengidentifikasi anak-anak yang menderita trauma. Anak-anak tidak ingin menjadi sesuatu yang buruk, mereka pun tidak ingin melakukannya –selalu ada alasan mengapa. Kita tidak boleh menyebut mereka sebagai yang berkebutuhan khusus, memasukan mereka ke dalam kelas, dan mengatakan mereka tidak bisa belajar karena mereka bertindak buruk. Jelas ada sesuatu yang terjadi dan harus diatasi.

HG: Saya ingin mengucapkan terima kasih atas pekerjaan yang Anda lakukan untuk mendestigmatisasi masalah kesehatan mental – itu sangat berdampak. Mengapa penting bagi Anda untuk terlibat dalam hal ini?

TPH: Ini sangat penting bagi saya, terutama di komunitas Afrika-Amerika, karena ketika saya mengetahui statistik tentang remaja Afrika-Amerika yang melakukan bunuh diri meningkat dua kali lipat dalam dua dekade terakhir. Sementara anak-anak dari latar belakang lainnya menurun, Itu menggangguku. Saya tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apapun.

Orang Afrika-Amerika menderita dan kami tidak membicarakannya—sudah harus mulai dibicarakan.

Saya pikir jika saya tatap muka, itu bisa menormalkan percakapan sedikit. Ketika saya dengan Yayasan Boris Lawrence Henson ini, saya telah melihat banyak percakapan terjadi, dengan lebih banyak selebriti membicarakannya. Anda tidak pernah tahu apa yang bisa memicu sesuatu. Tidak banyak percakapan terjadi, dan kemudian saya memulai yayasan saya, dan sekarang saya melihat lebih banyak percakapan di sekitar subjek pembicaraan. Dan itu bagus – begitulah cara Anda mengubah stigmanya.

HG: Dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana menurut Anda kita semua dapat membuat langkah kecil untuk mengubah stigma kesehatan mental dalam komunitas kita?

TPH: Kita hanya perlu terus membicarakannya. Terkadang sesederhana mendengarkan orang. Seperti ketika Anda sedang bekerja, Anda bertanya, “Bagaimana kabarmu” [Dan mereka menjawab] “Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu?” Tatap dengar benar seseorang di mata mereka dan tanya kepada mereka, “Apa kabar?” dan benar-benar dengarkan jawaban mereka. Saya pikir dunia tempat kita hidup ini dengan semua teknologinya membuat kita tidak peka. Semua orang seperti ini [melihat ke bawah] dan tidak ada yang melihat ke atas. Saya pikir kita perlu berjuang untuk menjaga hubungan dan kontak manusia itu.

Sangat mudah untuk fokus pada smartphone Anda, dan bahkan lebih mudah lagi untuk orang lain menderita depresi. Masyarakat membuat kita lebih mudah untuk terus turun dan mengasingkan diri kita sendiri, untuk memisahkan diri kita sendiri. Kita harus berjuang melawan itu dan terus menciptakan tempat-tempat di mana manusia dapat berkomunikasi dengan baik satu sama lain.

HG: Anda sudah bicara tentang perjuangan pribadi Anda dengan kecemasan dan depresi di masa lalu. Apa saja cara yang telah Anda pelajari untuk mengatasinya?

TPH: Hari-hari itu terasa sangat sulit, saya punya teman-teman yang saya tahu akan datang dan membuat saya keluar dari rumah. Saya berolahraga, tetapi ada hari-hari ketika saya bahkan tidak bisa memotivasi diri saya untuk berolahraga – saat itulah saya menelepon teman-teman saya yang saya tahu akan berkata “Ayo, bangun!” Saya juga bermeditasi. Saya suka aromaterapi dan mangkuk dari Tibet yang dapat bernyanyi, karena nadanya dapat menenangkan pikiran saya yang kacau. Ada begitu banyak terapi yang bisa Anda lakukan. Meditasi sungguh menakjubkan, meditasi banyak membantu saya. Terapis saya selalu bertanya, “Apakah Anda bermeditasi minggu ini?”

Memiliki seorang terapis dapat menjadi suatu pengalaman tersendiri, karena Anda mencari seseorang yang anda rasa nyaman bersamanya.

HG: Apakah Anda merasa meditasi sulit ketika Anda pertama kali belajar?

TPH: Awalnya, saya pikir ada cara tertentu yang harus Anda lakukan. Begitu saya mengerti bahwa meditasi adalah tentang menenangkan pikiran, saya berhenti berusaha untuk duduk di sana dan pergi, “Om”. Saya mulai mematikan semua suara,tidak ada suara musik, tidak ada suara televisi ketika saya di rumah. Bahkan jika saya tidak duduk diam dan bergerak di sekitar rumah, saya membiarkan pikiran saya jernih. Saya dapat bekerja di sekitar rumah dan masih memikirkan hal-hal lain. Pikiranku berpacu – aku membiarkannya berlari, berlari, berlari dan kemudian ada saat-saat ketika aku benar-benar harus diam. Setiap kali Anda diam, itu adalah kondisi meditasi.

HG: Saya belum pernah berpikiran seperti itu.

TPH: Ya, Anda bisa bermeditasi di bus

HG: Saya harus melakukannya ketika saya naik kereta bawah tanah! Jadi, Anda telah bekerja sama dengan Kinder Bueno ketika mekreka melakukan ekspansi ke Amerika. Mengapa Anda memutuskan untuk bermitra dengan merek ini?

TPH: Ya, pertama karena ini cokelat yang sangat enak. Saya mulai makan [diet] vegan, dan saya melakukannya [tanpa kecuali] selama satu tahun. Saya menemukan bahwa hal-hal tertentu sulit untuk dihilangkan – coklat salah satunya, dan juga makanan laut. Saya tidak ingin merasa seperti merampas hidup saya, jadi saya hanya mengubah sedikit diet. Sekarang saya 90% nabati dan ketika saya ada di cheat day, saya akan mengijinkan diri saya untuk makan makanan laut atau cokelat.

TPH: Kinder Bueno ini benar-benar cokelat yang enak tidak meninggalkan rasa yang aneh atau buruk. Saya suka makanan manis, bahkan ketika saya makan makanan nabati, saya akan memakan makanan penutup berbahan dasar nabati. Jadi ini sempurna untuk cheat day karena saya tidak merasa begitu mengganggu program diet saya. Saya hidup seperti ini ketika saya berada di China selama tiga bulan, itu menjadi suatu nostalgia bagi saya. Mengetahui bahwa cokelat itu sekarang hadir di A.S adalah hal yang bagus, saya bisa memakan cokelat yang enak dari sini.

Henson benar, kita bisa menggunakan cokelat yang baik di negara ini, tetapi yang lebih penting, kita butuh orang seperti dia, orang yang berjuang untuk mengubah stigma kesehatan mental dan menjaga hubungan manusia ‘kuno’ tetap terjaga.

SUMBER: HelloGiggles

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Gerakan makan telur di Sukabumi cegah stunting

Avatar

Published

on

Pixabay

Sukabumi meluncurkan program konsumsi telur agar menekan angka dari kondisi stunting. Stunting adalah kondisi anak yang memiliki tinggi yang lebih rendah dibanding standar pada usianya. Gerakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan gizi yang didapat pada anak-anak.

Launching gerakan konsumsi daging ayam dan telur yang bertempat di Posyandu Gatot Kaca, Jl. Kolabereus Salaeurih, Kel. Dayeuhluhur, Kec. Warudoyong, pada hari Rabu 22 Januari. “Upaya ini untuk membebaskan kota Sukabumi dari stunting,” ujar Achmad Fahmi, Walkot Sukabumi.

Gerakan ini disebut oleh Fahmi adalah pemberian asupan yang bergizi dengan memberikan protein hewani dari telur ayam. Langkah ini dilakukan supaya anak dan cucu tumbuh berkembang dengan normal.

Program tersebut menurut Fahmi, dari setiap posyandu akan diberikan satu peti penuh telur ayam, sebanyak 200 butir. Maka nanti, satu anak akan dapat sebanyak dua butir telur dan semuanya diberi pada anak supaya mendapat asupan makanan bergizi dengan lebih baik dan tumbuh dengan normal seperti yang diharap semua orang tua.

Ia berkata bahwa bantuan program CSR tersebut capai sebanyak 12 peti dalam satu bulan atau artinya ada 2.400 butir telur dalam satu tahun. “Targetnya anak Sukabumi makin sehat dan kasus stunting di Sukabumi bisa dituntaskan,” tambahnya.

Berdasarkan info yang diperoleh oleh Fahmi, Sukabumi masih memiliki kasus stunting pada beberapa wilayah. Ia kemudian berharap bahwa kota Sukabumi bebas dari peristiwa stunting.

Kardina Karsoedi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sukabumi, ikut berpendapat bahwa gerakan ini mendapatkan dukungan dari distributor telur yang dipasok satu bulan sekali antara hari Rabu dan Sabtu.

Telur-telur tersebut didistribusi melewati Pemerintah Kota Sukabumi dan disambung ke warga.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Kesehatan

Dokter China yang selidiki virus korona mengaku terinfeksi

Avatar

Published

on

Republika

Satu orang dokter China yang sedang menyelidiki wabah dari virus mematikan yang baru mengaku telah terinfeksi oleh virus tersebut.

Kepala Departemen Pengobatan Paru dari Peking University First Hospital Beijing, Wang Guangfa, jadi bagian dari tim ahli yang pada awal bulan Januari ini sempat mengunjungi Wuhan, asal tempat dari virus korona.

Media televisi pemerintah China memberikan laporan di hari Rabu pagi, Wang kini sedang dalam ruang isolasi dan diberikan perawatan sejak hari Selasa karena diduga terkena infeksi dari virus korona.

“Saya terdiagnosa dan kondisi saya baik-baik saja,” ucap Wang pada Cable TV Hong Kong, Selasa (21/1). Ia tidak lupa menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang masyarakat berikan padanya.

Jumlah korban yang meninggal dunia akibat virus korona yang menyerupai flu, telah dikonfirmasi oleh para pejabat bahwa virus tersebut bisa menular pada sesama manusia, menjadi enam orang korban, per Selasa (21/1). Jumlah dari kasus virus yang sudah dilaporkan melonjak menjadi 300 kasus lebih. Sementara, ada 15 orang petugas medis yang ikut terkena infeksi juga.

Wang, pada saat itu sedang melakukan penelitian perihal infeksi saluran pernapasan berat (SARS) pada tahun 2003, berkata ia sedang dalam perawatan medis dan akan diberikan suntikan. Namun, ia tidak menceritakan tentang bagaimana ia terkena infeksi virus itu.

“Saya tak mau semua orang terlalu memperhatikan kondisi saya,” sebutnya pada kanal berita China.

Pada tanggal 10 Januari ia berkata pada media wabah dari virus korona tampak terkendali, karena sebagian dari pasien memiliki gejala-gejala yang ringan dan beberapa sudah boleh dipulangkan.

SUMBER: Antara

Continue Reading

Kesehatan

Penderita penyakit kritis di Jabar di atas rata-rata Nasional

Avatar

Published

on

Pixabay

Total orang dengan penyakit kritis di Jabar di atas rata-rata Nasional.

“Seperti penyakit jantung. 1,6% masyarakat di Jabar menderita penyakit jantung,” jelas dr. Laura Anasthasya, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Premier Jatinegara pada seminar PRUTotal Critical Protection, Bandung, Senin 20 Januari.

dr. Laura berkata bahwa jumlah ini melebihi dari rata-rata yang nasional miliki, yaitu 1,5%. Begitu pula dengan penyakit hipertensi masyarakat Jawa Barat sebanyak 9,67%, dengan rata-rata nasional sebanyak 8,36%.

Begitupun dengan penyakit stroke. Penyakit stroke diderita sebanyak 11,4%, angka ini melebihi angka rata-rata nasional yang hanya sebanyak 10,9%. Juga gagal ginjal sebesar 0,48%, di atas rata-rata nasional 0,38%.

“Itu merupakan data yang diambil dari Riset Dasar 2018. Riset tersebut menunjukkan berbagai jenis penyakit memiliki prevalensi yang melebihi rata-rata nasional,” tutur dr. Laura.

Selain dengan disebabkan jumlah penduduk dengan angka besar, penyakit kritis itu bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Untuk itu, imbauan pada masyarakat untuk tidak terpaku mengindar hanya satu penyakit tertentu saja.

Bermacam-macam masalah kesehatan bisa terus bertambah karena dari banyak faktor yang mendukung seperti gaya hidup, perubahan iklim, dan globalisasi.

“Kondisi penyakit semakin banyak karena kurang aktivitas fisik, makanan pengawet, rokok, dan lainnya,” ungkapnya.

Maka dari itu, masyarakat Jawa Barat perlu untuk mengantisipasi dari ancaman penyakit kritis dengan cara mengubah gaya hidupnya dan lebih menyadari akan mahalnya kesehatan.

Penyakit kritis bisa berimplikasi ke aspek psikologis, finansial, dan sosial yang tergoyangkan stabilitas masa depan keluarga dan ekonomi.

“Apalagi beberapa jenis penyakit seperti akibat kecelakaan dan bencana tidak ditanggung BPJS,” tutur dr. Laura.

Masyarakat diminta agar mawas diri, menjalani pola hidup yang sehat, istirahat dengan cukup, dan rajin untuk medical check up.

“Lakukan medical check up untuk mencegah, bukan medical check up setelah sakit,”.

SUMBER: Kompas

Continue Reading

Trending