Bayi prematur dengan risiko diabetes tinggi • Malang Post News
Connect with us

Kesehatan

Bayi prematur dengan risiko diabetes tinggi

Avatar

Published

on

Bayi prematur  berada pada tingkat risiko diabetes yang tinggi, menurut sebuah laporan penelitian baru yang besar.

Dalam studi sebelumnya, kelahiran prematur telah dikaitkan dengan resistensi insulin, tetapi ini adalah studi besar pertama yang melacak risiko diabetes dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Dibandingkan dengan bayi dengan waktu lahir 9 bulan, mereka yang lahir prematur memiliki risiko relatif meningkat 21% untuk diabetes tipe 1 dan peningkatan risiko 26% untuk tipe 2 sebelum usia 18 tahun. Setelah 18, bayi prematur memiliki risiko relatif meningkat 24% untuk tipe 1 dan peningkatan risiko 49% untuk tipe 2. Anak perempuan yang lahir prematur memiliki risiko sedikit lebih tinggi daripada anak laki-laki.

Para peneliti mengikuti 4.193.069 bayi tunggal yang lahir di Swedia dari tahun 1973 hingga 2014 dengan umur rata-rata 23 tahun, beberapa selama 43 tahun. Mereka menemukan 27.517 kasus diabetes tipe 1, dan 5.525 kasus tipe 2. Penelitian ini dilakukan di Diabetologia.

Studi ini mengontrol usia ibu, pendidikan, indeks massa tubuh, merokok, diabetes selama kehamilan dan faktor lainnya.

“Sebagian besar anak yang lahir prematur baik-baik saja dari waktu ke waktu, tetapi mereka memiliki sedikit peningkatan risiko untuk berbagai ganggungan,” kata penulis utama, Dr. Casey Crump, seorang profesor kedokteran keluarga di Sekolah Kedokteran Icahn di Gunung Sinai di New York. “Anak-anak dan orang dewasa yang lahir prematur mungkin memerlukan skrining ebih awal dan tindak lanjut klinis untuk diabetes, dan intervensi gaya hidup yang lebih agresif untuk membantu mencegahnya.”

 

SUMBER: New York Times

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekonomi

Gerakan makan telur di Sukabumi cegah stunting

Avatar

Published

on

Pixabay

Sukabumi meluncurkan program konsumsi telur agar menekan angka dari kondisi stunting. Stunting adalah kondisi anak yang memiliki tinggi yang lebih rendah dibanding standar pada usianya. Gerakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan gizi yang didapat pada anak-anak.

Launching gerakan konsumsi daging ayam dan telur yang bertempat di Posyandu Gatot Kaca, Jl. Kolabereus Salaeurih, Kel. Dayeuhluhur, Kec. Warudoyong, pada hari Rabu 22 Januari. “Upaya ini untuk membebaskan kota Sukabumi dari stunting,” ujar Achmad Fahmi, Walkot Sukabumi.

Gerakan ini disebut oleh Fahmi adalah pemberian asupan yang bergizi dengan memberikan protein hewani dari telur ayam. Langkah ini dilakukan supaya anak dan cucu tumbuh berkembang dengan normal.

Program tersebut menurut Fahmi, dari setiap posyandu akan diberikan satu peti penuh telur ayam, sebanyak 200 butir. Maka nanti, satu anak akan dapat sebanyak dua butir telur dan semuanya diberi pada anak supaya mendapat asupan makanan bergizi dengan lebih baik dan tumbuh dengan normal seperti yang diharap semua orang tua.

Ia berkata bahwa bantuan program CSR tersebut capai sebanyak 12 peti dalam satu bulan atau artinya ada 2.400 butir telur dalam satu tahun. “Targetnya anak Sukabumi makin sehat dan kasus stunting di Sukabumi bisa dituntaskan,” tambahnya.

Berdasarkan info yang diperoleh oleh Fahmi, Sukabumi masih memiliki kasus stunting pada beberapa wilayah. Ia kemudian berharap bahwa kota Sukabumi bebas dari peristiwa stunting.

Kardina Karsoedi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sukabumi, ikut berpendapat bahwa gerakan ini mendapatkan dukungan dari distributor telur yang dipasok satu bulan sekali antara hari Rabu dan Sabtu.

Telur-telur tersebut didistribusi melewati Pemerintah Kota Sukabumi dan disambung ke warga.

SUMBER: Republika

Continue Reading

Kesehatan

Dokter China yang selidiki virus korona mengaku terinfeksi

Avatar

Published

on

Republika

Satu orang dokter China yang sedang menyelidiki wabah dari virus mematikan yang baru mengaku telah terinfeksi oleh virus tersebut.

Kepala Departemen Pengobatan Paru dari Peking University First Hospital Beijing, Wang Guangfa, jadi bagian dari tim ahli yang pada awal bulan Januari ini sempat mengunjungi Wuhan, asal tempat dari virus korona.

Media televisi pemerintah China memberikan laporan di hari Rabu pagi, Wang kini sedang dalam ruang isolasi dan diberikan perawatan sejak hari Selasa karena diduga terkena infeksi dari virus korona.

“Saya terdiagnosa dan kondisi saya baik-baik saja,” ucap Wang pada Cable TV Hong Kong, Selasa (21/1). Ia tidak lupa menyampaikan rasa syukur atas perhatian yang masyarakat berikan padanya.

Jumlah korban yang meninggal dunia akibat virus korona yang menyerupai flu, telah dikonfirmasi oleh para pejabat bahwa virus tersebut bisa menular pada sesama manusia, menjadi enam orang korban, per Selasa (21/1). Jumlah dari kasus virus yang sudah dilaporkan melonjak menjadi 300 kasus lebih. Sementara, ada 15 orang petugas medis yang ikut terkena infeksi juga.

Wang, pada saat itu sedang melakukan penelitian perihal infeksi saluran pernapasan berat (SARS) pada tahun 2003, berkata ia sedang dalam perawatan medis dan akan diberikan suntikan. Namun, ia tidak menceritakan tentang bagaimana ia terkena infeksi virus itu.

“Saya tak mau semua orang terlalu memperhatikan kondisi saya,” sebutnya pada kanal berita China.

Pada tanggal 10 Januari ia berkata pada media wabah dari virus korona tampak terkendali, karena sebagian dari pasien memiliki gejala-gejala yang ringan dan beberapa sudah boleh dipulangkan.

SUMBER: Antara

Continue Reading

Kesehatan

Penderita penyakit kritis di Jabar di atas rata-rata Nasional

Avatar

Published

on

Pixabay

Total orang dengan penyakit kritis di Jabar di atas rata-rata Nasional.

“Seperti penyakit jantung. 1,6% masyarakat di Jabar menderita penyakit jantung,” jelas dr. Laura Anasthasya, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Premier Jatinegara pada seminar PRUTotal Critical Protection, Bandung, Senin 20 Januari.

dr. Laura berkata bahwa jumlah ini melebihi dari rata-rata yang nasional miliki, yaitu 1,5%. Begitu pula dengan penyakit hipertensi masyarakat Jawa Barat sebanyak 9,67%, dengan rata-rata nasional sebanyak 8,36%.

Begitupun dengan penyakit stroke. Penyakit stroke diderita sebanyak 11,4%, angka ini melebihi angka rata-rata nasional yang hanya sebanyak 10,9%. Juga gagal ginjal sebesar 0,48%, di atas rata-rata nasional 0,38%.

“Itu merupakan data yang diambil dari Riset Dasar 2018. Riset tersebut menunjukkan berbagai jenis penyakit memiliki prevalensi yang melebihi rata-rata nasional,” tutur dr. Laura.

Selain dengan disebabkan jumlah penduduk dengan angka besar, penyakit kritis itu bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Untuk itu, imbauan pada masyarakat untuk tidak terpaku mengindar hanya satu penyakit tertentu saja.

Bermacam-macam masalah kesehatan bisa terus bertambah karena dari banyak faktor yang mendukung seperti gaya hidup, perubahan iklim, dan globalisasi.

“Kondisi penyakit semakin banyak karena kurang aktivitas fisik, makanan pengawet, rokok, dan lainnya,” ungkapnya.

Maka dari itu, masyarakat Jawa Barat perlu untuk mengantisipasi dari ancaman penyakit kritis dengan cara mengubah gaya hidupnya dan lebih menyadari akan mahalnya kesehatan.

Penyakit kritis bisa berimplikasi ke aspek psikologis, finansial, dan sosial yang tergoyangkan stabilitas masa depan keluarga dan ekonomi.

“Apalagi beberapa jenis penyakit seperti akibat kecelakaan dan bencana tidak ditanggung BPJS,” tutur dr. Laura.

Masyarakat diminta agar mawas diri, menjalani pola hidup yang sehat, istirahat dengan cukup, dan rajin untuk medical check up.

“Lakukan medical check up untuk mencegah, bukan medical check up setelah sakit,”.

SUMBER: Kompas

Continue Reading

Trending